Tanggal publikasi: 08 July 2009. Kata Kunci: Askes Gakin, Asuransi Kesehatan, infeksi nosokomial, informed concent, JPKMM, kasus malapraktik, Masalah Rumah Sakit, relasi dokter-pasien, Rumah Sakit, UU Praktik Kedokteran
Acapkali kita disajikan berita tentang kasus malapraktik yang melibatkan tenaga kesehatan, terutama dilakukan oleh dokter, yang terjadi di berbagai rumah sakit belakangan ini. Tidak sedikit masyarakat mengeluhkan buruknya pelayanan dan manajemen rumah sakit tempatnya dirawat. Beberapa diantaranya harus sampai pada proses hukum yang melelahkan seperti yang dialami oleh Ibu Prita Mulyasari yang harus dibui karena mengeluhkan buruknya pelayanan RS Omni Internasional.
Hampir semua lini pelayanan tak luput dari terjangan ketidakpuasan masyarakat, mulai dari penerimaan pertama pasien di Unit Gawat Darurat atau Poliklinik umum, pelayanan dokter dan asuhan perawatan, hingga pada masalah penebusan biaya selama perawatan dan pelayanan pasien di rumah sakit. Inilah realitas rumah sakit kita.
Belitan dana dan relatif longgarnya pengawasan terhadap operasionalisasi rumah sakit di Indonesia, menyebabkan orientasi sebagian besar RS hanya mencari keuntungan (laba) dari pasiennya. Kualitas pelayanan, tak dapat dipungkiri, berbanding lurus dengan biaya yang mesti dirogoh dari saku si sakit. Orientasi sosial rumah sakit menjadi sulit ditemukan di tengah kompetisi ketat antar provider (penyedia) pelayanan kesehatan saat ini.
Munculnya klinik-klinik swasta menjadi salah satu pemicu meredupnya praktik perumahsakitan yang benar-benar berorientasi “menyembuhkan” pasiennya. Karena faktor dana, sering kita jumpai orang yang sakit terpaksa pulang sebelum benar-benar sembuh, atau rumah sakit tidak sanggup lagi menutupi kekurangan biaya perawatannya.

Pemihakan Rumah Sakit vs Rakyat Miskin
Sedikit positif perkembangan yang ditunjukkan oleh hadirnya program Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (Askes Gakin) beberapa waktu terakhir. Banyak keluarga miskin yang menderita sakit, merasa sangat terbantu dengan adanya Askes Gakin ini. Namun pada sisi lain, tidak bisa dipungkiri pula, masih terlalu banyak warga miskin lainnya yang sedang sakit, tetapi tidak memiliki akses untuk memiliki kartu peserta Askes Gakin. Cakupan program ini masih sangat terbatas, belum menyentuh semua lapisan masyarakat.
Belum berbicara kualitas pelayanan. Banyak rumah sakit hanya dilengkapi dengan peralatan medik terbatas dengan fasilitas laboratorium yang minim. Terkadang pasien harus antri berlama-lama untuk menerima pelayanan di poliklinik RS akibat sedikitnya jumlah dokter yang bertugas. Selain itu, RS kita juga kerap masih bergelut pada “mental model” paramedik yang jauh dari harapan pasien. Sikap yang ramah dan murah senyum, ikhlas membantu pasien serta komunikasi yang melegakan, masih merupakan barang langka dijumpai.
Pada sebagian RS milik pemerintah, untuk pelayanan rawat inap, pasien dan pembesuk harus rela menikmati lingkungan RS yang kotor dan nampak tidak terawat. Sampah di sana-sini tersebar dikerubungi lalat dan tikus. Fasilitas tambahan seperti air bersih dan kamar mandi kerap sangat terbatas dan cenderung tidak diperhatikan serius kebersihan dan kesehatannya.
Melihat fenomena seperti ini bagaikan kita tidak berada dalam sebuah rumah sakit saja, karena sesungguhnya RS harus dapat memperlihatkan dan mengajarkan budaya hidup bersih dan sehat kepada setiap orang yang berada di dalamnya. Selengkapnya…
Kategori Artikel: Artikel, Opini, Pemihakan Rumah Sakit
Tanggal publikasi: 04 June 2009. Kata Kunci: Ibu Prita Mulyasari, Malpraktik kedokteran, Omni Internasional, Prita, Prita Mulyasari, RS Omni, RS Omni Internasional, Rumah Sakit
[caption id="attachment_1059" align="alignleft" width="356" caption="Ibu Prita Mulyasari ketika ditemui oleh Megawati Soekarno Puteri"][/caption]
Teman-teman sudah tahu kan perkembangan kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari di Tangerang? Iya, Ibu Prita Mulyasari adalah seorang korban yang sempat mendekam dalam sel penjara Narapidana Perempuan Tangerang karena dituntut mencemarkan nama baik dan menfitnah pihak Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang. Sebuah fakta yang dalam kacamata saya Baca Selengkapnya!
Kategori Artikel: Artikel, Opini, Refleksi
Tanggal publikasi: 01 August 2008. Kata Kunci: Gaji Dokter, Jasa Dokter, Pelayanan RS, Rawat Inap, Rawat Jalan, Rumah Sakit, Sewa Rumah Sakit, Tarif RS, Tarif Rumah Sakit
Masalah tarif rumah sakit memang selalu menarik diperdebatkan. Hal ini pula yang mendasari mengapa Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Makassar Timur pernah melakukan advokasi tarif rumah sakit di Sulawesi Selatan. Tapi, apa sebenarnya tarif rumah sakit itu?
Departemen Kesehatan mengartikan tarif sebagai nilai suatu jasa pelayanan rumah sakit dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut, rumah sakit bersedia memberikan jasa kepada pasien. Menurut Gani ( 1997 ) tarif atau “price” adalah harga nilai uang yang harus dibayar oleh konsumen untuk memperoleh atau mengkomsumsi suatu komoditi yaitu barang atau jasa. Mulyadi ( 1997 ) mengemukakan bahwa dalam keadaan normal harga atau tarif harus menutup biaya penuh ( Full Cost ) yang terkait dengan produk dan menghasilkan laba yang dikehendaki. Selengkapnya…
Kategori Artikel: Artikel, Opini
Tanggal publikasi: 26 May 2008. Kata Kunci: Dekan, Dokter, FK UMI, FK UNHAS, Industrialisasi, Kedokteran, Kiprah Dokter, Koass, Komersialisasi, Pelayanan Kesehatan, RSWS, Rumah Sakit, S.Ked
Kemarin saya mendapat kiriman email dari seorang senior di Australia, dan menanyakan kondisi rumah sakit yang saya tempati menjalani pendidikan dokter, yakni RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tak lupa juga beliau menggelitik seputar fakultas kedokteran tempat beliau dulu ditempa hingga akhirnya menjadi seorang Sarjana Kedokteran (S.Ked). Sekadar informasi, RSWS merupakan rumah sakit pendidikan milik pemerintah di propinsi Sulawesi Selatan. Sebagian besar aktivitas pendidikan kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) dilangsungkan di rumah sakit terbesar di Indonesia Timur ini. Rumah sakit ini juga merupakan pusat rujukan untuk pelayanan kesehatan di Indonesia Timur, termasuk sebagai pusat penanganan kasus infeksi Flu Burung yang menghebohkan itu. Saat ini, RSWS berstatus sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah koordinasi Dirjen Pelayanan Kesehatan (Yankes) Departemen Kesehatan. Berikut ini adalah catatan yang saya kirim untuk senior tersebut (tentunya dengan beberapa perubahan). Selengkapnya…
Kategori Artikel: Aktivitas, Artikel, Opini
Tanggal publikasi: 16 February 2008. Kata Kunci: Paradigma Sehat, Pembangunan Kesehatan, Reformasi Kesehatan, Rumah Sakit
Hiruk-pikuk genderang reformasi yang ditabuh pada tahun 1998 seakan belum juga mau surut. Bahkan dalam kondisi saat ini, agenda reformasi dirasakan masih perlu diekstensifkan lagi, merambah pada semua sektor kehidupan, tak terkecuali bidang kesehatan. Pembangunan kesehatan hingga saat ini masih perlu mencari formulasi yang tepat untuk dapat sampai pada sasaran. Termasuk untuk melakukan berbagai upaya reformulasi dan reformasi kebijakan-kebijakan di dalamnya.
Realisasi paradigma sehat yang Baca Selengkapnya!
Kategori Artikel: Artikel, Medical, Opini
Tanggal publikasi: 13 February 2008. Kata Kunci: Hak Sehat, Pelayanan Kesehatan, Rumah Sakit
Dibandingkan dengan kebutuhan hidup manusia yang lain, kebutuhan pelayanan kesehatan mempunyai tiga ciri utama yang terjadi sekaligus dan unik yaitu : uncertainty, asymetri of information dan externality (Evans, 1984). Menurut Evan, ketiga ciri utama tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan sangat unik dibandingkan dengan produk atau jasa lainnya.. Keunikan yang tidak diperoleh pada komoditas lain inilah yang mengharuskan kita membedakan perlakuan atau intervensi pemerintah.
1. Baca Selengkapnya!
Kategori Artikel: Artikel, Opini
Tanggal publikasi: 01 February 2008. Kata Kunci: Hospital, Kesehatan, Promkes, RS, Rumah Sakit, Sosio-Ekonomi
Tujuan pelayanan kesehatan sebenarnya mencakup tercapainya equity. Tujuan ini sangat penting karena kesehatan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap individu. Equity yang dimaksudkan adalah egalitarian equity dan sosial equity ( keadilan sosial yang adil dan merata ). Egalitarian equity pada dasarnya merupakan paham bahwa setiap orang harus dapat menerima pelayanan kesehatan sesuai dengan kemampuan membayar.
Sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu teknologi kedokteran rumah Baca Selengkapnya!
Kategori Artikel: Artikel, Opini
Tanggal publikasi: 01 January 2008. Kata Kunci: Hospital, RS, Rumah Sakit
Rumah sakit oleh WHO ( 1957 ) diberikan batasan yaitu suatu bahagian menyeluruh, ( Integrasi ) dari organisasi dan medis, berfungsi memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan, rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan serta untuk penelitian biososial.
Fungsi Rumah sakit selain yang diatas juga merupakan pusat pelayanan rujukan medik spsialistik dan sub Baca Selengkapnya!
Kategori Artikel: Artikel, Opini
3 Komentar Terakhir