Analisis Biaya Pelayanan Rumah Sakit


Analisis biaya adalah suatu proses mengumpulkan dan mengelompokkan data keuangan rumah sakit untuk memperoleh dan menghitung bidya output jasa pelayanan rumah sakit. Secara khusus tujuan keoiatan analisis biaya adalah mendapatkan gambaran mengenai unit atau badian yang merupakan pusat biaya (Cost Center ), Pusat pendapatan ( revenue center ), dan gambaran mengenai biaya investasi, biaya operasional biaya pemeliharaan pendapatan rumah sakit serta biaya satuan pelatanan rumah sakit.

1. Prinsip Dasar Analisis Biaya Rumah Sakit
a. Analisis biaya dilakukan untuk biaya yang dikeluarkan dalam kurun waktu satu tahun anggaran.
b. Melakukan pemetaan biaya klasifikasi biaya dan lokasi biaya
c. Melakukan penyederhanaan semua biaya dari berbagai sumber menjadi biaya operasional dan biaya investasi
d. Biaya operasional yaitu biaya yang dikeluarkan berdifat berulang-ulang misalnya setiap bulan.
e. Biaya investasi biasanya tidak berulang dan berlangsung setahun atau lebih misalnya biaya pembelian alat-alat medis, pembangunan gedung.
f. Untuk menghitung biaya asli pada masing-masing pusat biaya harus memperhatikan unsur biaya yang dibutuhkan oleh pusat biaya tersebut.Pusat biaya adalah unit kerja yang memerlukan biaya untuk menjalankan misi yang diembannya. Dirumah sakit pada dasarnya adalah pusat biaya ( Cost Center) baik yang menghasilkan ( Pusat Pendapatan ) maupun yang tidak menghasilkan pendapatan ( pusat Pengeluaran ). Unit yang menghasilkan pendapatan disebut pusat biaya produksi ( revenue center ) dan yang tidak menghasilkan pendapatan disebut pusat biaya penunjang.
g. Untuk menghitung biaya satuan (Unit Cost ) unit pelayanan tertentu, seperti rawat inap yang dihasilkan dipusat biaya produksi. Semua biaya yang terpakai di pusat biaya penunjang perlu didistribusikan kepusat biaya produksi.
h. Dalam rangka pendistribusian biaya ( dari pusat biaya penunjang kepusat biaya produksi) harus diperhatikan data dasar alokasi yang sebaiknya dilakukan.

2. Manfaat Analisis Biaya
a. Diperolehnya jumlah biaya (total cost) dari satu unit produksi rumah sakit dan biaya satuan (unit cost) dari tiap-tiap output rumah sakit. Informasi ini diperlukan untuk alokasi dana dan perencanaan rumah sakit.
b. Menentukan tarif dari berbagai jenis pelayanan rumah sakit tergantung dari tujuan dan jenis rumah sakit, maka tarif disusun dapat juga bervariasi. Pada umumnya rumah sakit dapat dibagi atas 3 jenis yaitu rumah sakit yang bersifat mencari keuntungan (Profit motive oriented) daimana tarifnya adalah unit cost ditambah keuntungan, yang kedua rumah sakit yang profitnya untuk investasi atau mengganti bararig¬barang yang aus dimana tarifnya sama dengan unit cost dan bid~a investasi pengembangan ( dengan catatan pada perhitungan unit cd9t telah dihitungkan biaya penghapusan ), yang ketiga adalah rumah sakit nirlaba (not for profit) dimana biaya investasi dapat didistribusi dari pemerintah atau pemilik rumah sakit bersangkutan dimana biaya investasi sama dengan unit cost ( pada perhitungan unit cost tidak diperhitungkan penghapusan ).
c. Peningkatan efesiensi
Dengan analisis biaya maka dapat diidentifikasi pusat-pusat biaya (cost centers) yang strategis dalam rangka upaya efisiensi rumah sakit.
d. Analisis rugi – laba
Analisis biaya dapat dilakukan bersama-sama dengan perkiraan pendapatan (revenue) rumah sakit.
e. Secara mikro
Analisis biaya dapat dimanfaatkan oleh direktur rumah sakit sebagai bahan pertimbangan atau negosiasi dengan pembayaran pihak ketiga misalnya Asuransi Kesehatan ( PT.Askes, PT.Jamsostek dan asuransi lainnya) sebagai alat untuk mengawasi dan mengendalikan biaya secara periodik sebagai laporan rumah sakit pada pemegam saham atau pemilik.

3. Langkah-langkah Dalam Analisis Biaya
a. Langkah pertama
Melakukan identifikasi sumber biaya yang didalpat oleh rumah sakit untuk melaksanakan kegiatannya. Untuk itu diperlukan adanya rincian setiap adanya biaya yang dikeluarkan tanpa
b. Langkah kedua
Melakukan identifikasi pusat-pusat biaya (cost centers) yang terdapat dalam rumah sakit yaitu setiap unit struktural maupun fungsional dalam rumah sakit yang memerlukan biaya dalam melaksanakan kegiatannya. Umumnya pusat-pusat biaya ini dapat dikelompokkan dalam dua jenis yakni.
1). Pusat biaya pemasukan / produksi (revenue producing cost centersn yaitu unit yang langsung memberikan pelayanan kepada pasien atau dapat dikatakan unit yang dapat mengklaim langsung output pasien, contoh unit rawat inap.
2). Pusat biaya pengeluaran / produksi (non revenue producing centers) yaitu unit yang keberadaannya menunjang unti produksi, contoh instalasi gizi, apotek, bagian keuangan.
c. Langkah ketiga
Menghitung besarnya biaya asli dari tiap-tiap unit penunjang dan produksi yang diuraikan menurut jenis biaya ( investasi dan operasional ) dan komponen-komponennya. Komponen biaya investasi antara lain biaya gedung, peralatan medis dan non medis. Komponen biaya oprasional antara lain, honorarium, obat, alat tulis medis (kasa, kapas dll). Biaya ash setiap unit penunjang dan produksi ini adalah semua biaya yang telah digunakan untuk waktu tertentu, biasanya satu tahun.
Untuk menghitung biaya investasi dalam setahun termasuk biaya penyusutan, dalam hal ini mengdunakan metode Annualized Invesment Cost (AIC)
d. Langkah keempat
Setelah hasil dari langkah ketiga diperoleh, maka langkah selanjutnya yaitu memindahkan biaya asli setiap unit penunjang kesetiap unit produksi yang terkait. Hal ini disebut dengan mengalokasikan biaya karena pada dasarnya unit penunjang akan memindahkan biaya asli yang secara berbeda jumlahnya ke unit-unit produksi terkait, maka tidak akan ada lagi biaya yang tersisa disatu unit penunjang.
Dengan demikian biaya akhir yang ada disetiap unit produksi itu sendiri ditambah dengan biaya tindakan dari unit penunjang. Untuk mendapatkan biaya satuan (unit cost) layanan yang diberikan selama setahun yang sama. Kegiatan alokasi biaya ini dilakukan untuk setiap jenis biaya dan komponennya masing-masing.
Untuk dapat dilakukan alokasi biaya dengan benar maka harus dilakukan dua langkah.
1). Langkah pertama
Melakukan identifikasi hubungan atau kaitan antara unit penunjang dengan unit produksi.
2). Langkah kedua
Menentukan ukuran dasar alokasi yang akan digunakan artinya kalau ingin dialokasikan biaya dari bagian administrasi keunit lainnya, maka harus ditentukan lebih dahulu ukuran ukuran dasar yang dipakai, dalam hal ini biasanya digunakan jumlah pegawai.
Dengan demikian setiap alokasi biaya dari bagian administrasi akan dialokasikan dengan. menggunakan jumlah seluruh pegawai rumah sakit sebagai penyebut dan jurrilah pegawai di unit yang bersangkutann sebagai betikut :
a). Cuci ! Laudry ; jumlah potong pakaian , jumlah kg yang dicuci
b). Kebersihan ; meter persegi luas lantai
c). Dapur ; porsi makan
d). Umum ; volume biaya yang terdapat di masing – masing unit

Adapun beberapa metode yang dapat digunakan menditribusikan biaya dari unit – unit penunjang ke unit produksi dari metode yang sederhana sampai yang amat rumit ( Young.1984 )
1) Simple Distribution Method
Metode ini adalah yang paling sederhana dalam pelaksanaan perhitungan metode ini mengabaikan adanya kemungkinan kaitan antara unit penunjang dengan unit produksi. Dengan demikian halnya akan terjadi alokasi biaya dari unit penunjang ke unit produksi dengan menggunakan dasar alokasi yang sesuai dengan uit penunjang masing – masing.
2) Stepdown Method
Perbedaan dasar metode ini dengan simple distribution yaitu pada pengakuan metode ini terhadap adanya secara nyata hubungan atau kaitan antara unit penunjang itu sendiri.
Dengan demikian, kAma dalam perhitungan akan lebih kompleks dibandingkan dengan simple ditribution, kaitan antara sesama unit penunjang dan unit produksi ini harus terlebih dahulu ditentukan , dalam hal ini harus ditentukan unit penunjang mana yang paling banyak memberikan kontrubusinya akan diletakan pada urutan tertinggi dalam susunan alokasi biaya , sedangkan yang paling kecil konnstribusinya akan diletakan pada urutan yang paling bawah..Dalam proses alokasi selanjutnya, sesuai unit penunjang yang paling banyak konstribusinya telah dialokasikan biaya aslinya, maka unit ini tidak akan mendapat alokasi lagi dari unit diperingkat lebih rendah.
3) Double Distribution Methode
Secara teknis metode ini hampir semua dengan metode stepdown, perbedaannya hanya pada cara alokasi biaya yang dilakukan pada dua tahap . Selain itu adanya konstribusi antara unit penunjang dilakukan secara nyata artinya dalam hal ini biaya aslinya . Dengan demikian pada unit penunjang tersebut mempunyai kemungkinan mendapat biaya alokasi dari unit penunjang lainnya.
Pada tahap kedua, seluruh biaya yang ada di unit penunjang dipindahkan ke seluruh unit produksi terkait untuk mendapatkan biaya total dari unit produksi. Setelah didapat biaya ash dan biaya alokasi yang didapat maka biaya satuan dari jasa layanan tersebut dapat diketahui dengan membagi jumlah Iayanan yang diberikan unit tersebut selama kurun waktu tertentu.
4) Multiple Distribution
Alokasi biya dilakukan berulang – ulang termasuk juga antara sesama unit produksi. Dari keempat metode tersebut, berdasarkan beberapa pengalaman ternyata metode distribusi ganda (double distribution) yang cocok untuk dilakukan karena alokasi antar unit produksi tidak perlu dilakukan.

Kategori Artikel, Opini :: Kata Kunci: , , , ,1 Komentar

Populer Bulan Ini