Industrialisasi Kedokteran
Posted by | Published on May 26th, 2008
Kemarin saya mendapat kiriman email dari seorang senior di Australia, dan menanyakan kondisi rumah sakit yang saya tempati menjalani pendidikan dokter, yakni RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tak lupa juga beliau menggelitik seputar fakultas kedokteran tempat beliau dulu ditempa hingga akhirnya menjadi seorang Sarjana Kedokteran (S.Ked). Sekadar informasi, RSWS merupakan rumah sakit pendidikan milik pemerintah di propinsi Sulawesi Selatan. Sebagian besar aktivitas pendidikan kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) dilangsungkan di rumah sakit terbesar di Indonesia Timur ini. Rumah sakit ini juga merupakan pusat rujukan untuk pelayanan kesehatan di Indonesia Timur, termasuk sebagai pusat penanganan kasus infeksi Flu Burung yang menghebohkan itu. Saat ini, RSWS berstatus sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah koordinasi Dirjen Pelayanan Kesehatan (Yankes) Departemen Kesehatan. Berikut ini adalah catatan yang saya kirim untuk senior tersebut (tentunya dengan beberapa perubahan).
Pernahkah anda berobat atau sekadar jalan-jalan ke rumah sakit di kota anda? Apa yang anda temukan di sana? Memang saat ini masih sangat banyak rumah sakit yang benar-benar tidak memperhatikan aspek ‘kualitas’ pelayanan, tetapi justru habis-habisan di sektor diversifikasi dan kuantifikasi pelayanan. Entah kenapa. Saya menduga, ini bagian dari praktek ekonomi makro: mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang sesedikit-sedikitnya.
Soal fakultas kedokteran, saya pikir ini problem mendasar; sitem pendidikan kedokteran kita. Menurut saya, mental model dan kapitalisme dibangun secara tidak langsung di jenjang pendidikan ini. Munculnya model-model penerimaan mahasiswa baru kedokteran seperti jalur khusus atau program kelas internasional, kian mempertegas hal tersebut. Perlahan, muncul kesepakatan banyak orang: hanya mereka yang benar-benar berduit yang bisa sekolah di fakultas kedokteran. Apakah memang harus demikian? Tahun ini saja, quota FK UNHAS (mungkin juga fakultas kedokteran lainnya) yang terbuka lewat SPMB sudah semakin menyusut (tinggal 100 kursi saja) dan selebihnya adalah program ‘monetizing’ lainnya (200-an kursi). Beberapa tahun kemudian, saya khawatirkan tidak ada lagi jalur publik untuk dapat menikmati pendidikan kedokteran.
Lipstik
Perubahan-perubahan yang sebelumnya dicanangkan, sekarang tidak lebih kelihatan hanya sebagai ‘lipstik’ saja. Mungkin agar fakultas ini terkesan ‘layak jual’ sehingga membuka peluang mendapat banyak income dari sektor ini, tanpa memperhatikan kualitas pendidikan sendiri. Meskipun sudah dilaksanakan program pendidikan dengan kurikulum terintegrasi, tetapi secara intelektual, pendidikan di FK sebenarnya secara kualitatif tidak jauh berbeda dengan model lama yang dulu kita pernah rasakan. Yang secara jelas membedakannya adalah fasilitas yang sekarang ini digunakan di fakultas. Di FK UNHAS, saya lihat, Pak Dekan Prof. Irawan sendiri sudah sedikit kewalahan dengan ‘arus’ ini. Sekilas, beliau sudah bukan seperti DOI yang dulu. Tapi memang, seperti kata teman, apa sih yang tidak berubah di bawah matahari?
Secara umum, barangkali kita bisa memandang semua hal ini dalam sebuah frame industrialisasi kedokteran. Mulai dari diversifikasi yang tidak berkualitas dari sektor pelayanan kesehatan (rumah sakit) hingga pada komersialisasi sistem pendidikan kedokteran. Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan yang sebenarnya juga sudah terjadi sejak dahulu, meskipun dengan kadar dan intensitas yang tidak separah sekarang.
Dan kita, di Fakultas Kedokteran Unhas, atas back up dari semua lapisan generasi kedokteran saat ini, justru membuka pintu lebar-lebar masuknya pahaman ini, membentuk sebuah mental model para calon dokter, untuk kemudian menjadi aktor kapitalis berikutnya! Selamat dan sukses.
Salahkah saya jika menjadikan catatan ringan ini sebagai kado untuk peringatan Seabad Kiprah Dokter Indonesia, 20 Mei 2008?
Popularity: 10% [?]





















May 26th, 2008 at 6:56 am
Saya agak heran juga sama anak-anak orang kaya itu yang masuk FK mungkin dengan cita-cita lebih untuk kumpulkan duit. Anak-anak orang kaya di Jkt atau di kota-kota besar lain di Jawa yang mau cepat kumpulkan duit kayaknya tak banyak lagi milih masuk FK….Mending sekolah bisnis atau IT….Saya lihat anak-anak orang kaya bahkan makin banyak ambil S1 di Australia, Singapura, AS umumnya di bidang bisnis, commerce, IT…Masuk FK, sudah masa kuliah lama, ko-ass di RS yang feodal dan militaristis….return of investment-nya juga lambat….kalau mau dipercepat return of invesntement itu pasti lewat2 cara2 tak etis dengan membebani pasien, termasuk pasien pas-pasan dan miskin….Jadi dokter spesialis pun tak akan setajir jadi pengusaha atau jadi profesional di perusahaan2 besar…
Kalau motivasinya prestige….C’mon….Ini abad 21, bukan tahun 50-an atau 70-an lagi…FK UI sudah lama bukan lagi fakultas paling bergengsi kalah pamor dengan Fekon atau FISIP….
[reply to this comment]
Asta Qauliyah reply on May 26, 2008:
Kelas Internasional itu produk dari Prof. Irawan setahun yang lalu. Pada mulanya, konsep kelas internasional sebenarnya cukup bagus menurut saya. Kelas ini dibuka untuk mereka yang mau belajar kedokteran secara multi-cultural, jadi dibuka untuk (terutama) mahasiswa dari luar negeri. Fasilitasnya pun jauh lebih ‘wah’ dibanding kelas reguler lainnya. Pada awalnya, kelas internasional ditargetkan menjadi sebuah branding internasional untuk fk unhas, sehingga reputasinya meningkat dan pada akhirnya memang, ujung2-nya akan bermuara pada pendapatan bagi fakultas dan universitas. Makanya, semua staff pengajar di kelas ini diwajibkan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar pendidikan. Diharapkan, kelas internasional akan diselenggarakan juga dengan standard internasional.
Hanya saja, reputasi yang diharapkan terbangun itu kemudian perlahan meredup, seiring dengan memburuknya kualitas belajar-mengajar dan beberapa problem teknis lain. Ambil contoh misalnya, pembangungan ruang belajar dan auditorium FKUH. Proyek ini tersendat hingga setahun, sehingga mahasiswa kelas internasional angkatan I harus belajar berpindah-pindah dari ruang kelas yang masih reguler sembari menunggu kelarnya kelas-kelas mewah mereka. Pada lain sisi, bisa dibayangkan bagaimana lucunya Professor2 kita yang sudah uzur itu, bercakap dalam bahasa inggris yang dipaksakan. Proses belajar mengajar kerapkali ibarat tayangan lawak di teve.
Terakhir yang saya tahu, untuk masuk di kelas internasional, initial fee-nya mencapai 150 juta (minimum) untuk setiap mahasiswa baru. Belum lagi SPP dan tetek-bengek lainnya. Yang kemudian lucu, ternyata yang mayoritas mengisi kelas internasional adalah mereka yang juga pribumi berduit lebih.Jadilah konsep full-english teaching itu menjadi ‘lipstik’ juga. Hampir tidak ada beda yang signifikan antara kelas internasional dengan kelas reguler lainnya saat ini. Saya sendiri mendengar secara langsung ucap kekecewaan dari beberapa mahasiswa peserta kelas internasional ini. Pada suatu waktu, saya justru terkesima kala mendengarkan statement dari dekan bahwa ini sebenarnya bukan kelas internasional, tetapi hanya program kelas bahasa inggris. Nah, lo?
Problem besar fakultas kedokteran unhas adalah ketidakmampuan melakukan filtering terhadap arus globalisasi kedokteran, sehingga kualitas menjadi terpinggirkan, kalah beradu dari kapasitas material. Saya pikir, bukan hanya di fakultas. Unhas pun demikian, karena sang nakhoda (rektor) kerap memakai sudut pandang kedokteran dalam mengarahkan universitas besar ini. Lihat saja penurunan kualitas UNHAS ketika bersaing dengan PTN-PTN lain dalam dan luar negeri. Kalau masuk unhas memang sekilas kita akan berdecak kagum dengan kebersihan dan kerapihan yang ditunjukkan, namun ketika mencoba melongok lebih dalam pada aspek akademik, maka kita akan sangat kecewa, karena ternyata relatif lebih buruk dibandingkan ketika kita belajar di Unhas hanya dengan runag kuliah yang sederhana dulu.
[reply to this comment]
May 27th, 2008 at 4:14 am
Thanks for visiting my blog bro…. keep up the good work…!! MERDEKA..!!!
[reply to this comment]
May 27th, 2008 at 2:50 pm
kesiapan sumber daya salah satunya ya..
kematangan sistem juga sptnya..
kl moral ya kembali ke diri masing2 aja
makasi sarannya di blog saya ya..
tp blm kepikiran kesana
[reply to this comment]
May 28th, 2008 at 3:30 am
Saya tahu, jadi dokter bukan lagi hal yang menjanjikan secara materi. Saya juga tahu bahwa dokter sekarang sudah tidak semulia dokter2 jaman dulu lagi. Semakin banyak dokter money oriented.
Biarkanlah dokter-dokter itu berjibaku untuk mengetuk pintu rejeki di sana, saya di sini, tidak perduli.
Saya benar-benar tidak perduli.
Di sini, saya sedang membuat pintu untuk mereka ketuk kelak.
[reply to this comment]
June 8th, 2008 at 8:57 am
Harga BBM dan bahan pokok naik, kalau dipikir-pikir akan membuat kita makin susah untuk hidup dinegara Indonesia yang kaya raya ini. Tapi kenyataanya, orang-orang sepertinya tidak terpengaruh dengan dua masalah tersebut. Makin banyak saja orang yang mau masuk perguruan tinggi dengan menggunakan jalur non-subsidi (ini bukan karena subsidinya dicabut oleh pemerintah seperti BBM).
Seratus Lima Puluh Juta, setara dengan subsidi buat 20 orang miskin setiap bulannya selama 6 tahun. Fantastis……………………………………………………….
[reply to this comment]
June 18th, 2008 at 12:45 pm
penyerapan ilmu kedokteran bukan dari cara mengajarnya dosen dan fasilitasnya tapi gimana kita sungguh2 untuk mengetahui ilmu sebagai bekal nanti di lapangan walaupun ilmu itu kadang beda dilapangan….kita2 sudah terlanjur jadi jadilah dirimu sendiri, persiapkan diri menjadi lebih baik….terus terang masih banyak orang yang membutuhkan dokter2 di sini (dottoro_96)
[reply to this comment]
June 24th, 2008 at 11:06 am
wah….. benar-benar kalo sakit harus banyak keluar uang nih.. jangan ampe sakit ah…
[reply to this comment]
June 26th, 2008 at 7:42 am
industrialisasi kedokteran memang tidak terelakkan, karena pasar yang memang menggiurkan. Tinggal regulator dan sesepuh dunia kedokteran yang harus membuat batas2 dan aturannya
[reply to this comment]
July 4th, 2008 at 8:01 pm
Jadi, problem utama kegelisahan kita semua sekarang adalah kualitas pendidikan.
Pribadi masih berat ka pake jas putih dgn otak yg seputih (blank) jasnya.
dalam situasi seperti ini, beruntung sekali mereka2 yg memang sungguh2 mencari “ilmu”nya. Karena kreativitas akan tetap jalan sesulit apapun, selama bersungguh-sungguh. Nah, kalau cuma kejar titel, pembimbing sudah kacau, suasana dan psikologis mencari ilmu yang tidak nyaman, apami di dapat ??
Sayangnya tipe begini yg paling banyak. Jadi mau tidak mau, kualitas pendidikan tetap mutlak tanggung jawab institusi, kalau diserahkan pada user, apami yg terjadi pada dokter2 kita di masa depan. (sebuah pertanyaan untuk diriku juga)
[reply to this comment]
Asta Qauliyah reply on July 5, 2008:
Setuju sekali, Fian! Inilah yang (seharusnya) dipikirkan oleh fakultas dan institusi pendidikan kedokteran sekarang, termasuk juga organisasi profesi IDI. Masih amat banyak yang harus dibenahi untuk memperbaiki citra dokter di masa mendatang.

[reply to this comment]