Masyarakat Miskin dan Retorika Pemerintah
Posted by | Published on March 1st, 2008
Saya akhirnya menuliskan kegusaran setelah mendengar, membaca dan mencoba ikut merasakan bagaimana kenyataan tragis terjadi di tengah-tengah kita. Mungkin bukan lagi hal yang luar biasa (terutama bagi pemerintah yang kerap bermain retorika untuk menutupi kegagalannya sendiri), tetapi menurut saya, meninggalnya Daeng Basee (35 tahun) bersama jabang bayi yang masih dikandungnya serta anaknya Bahir (5) pada hari Jumat (29/2) lalu di kota Makassar, sudah merupakan siri’ yang mesti menjadi bahan introspeksi kita semua!
Betapa tidak, coba Anda bayangkan ada seorang warga dari daerah yang dikenal sebagai ‘lumbung beras‘ akhirnya meninggal dunia karena tidak makan selama 3 hari! Sebuah kenyataan teramat pahit untuk bisa kita telan begitu saja, sangat kontradiktif dengan pernyataan pemerintah yang seolah berkilah dan lari dari duduk persoalan sebenarnya.
Kadis Kesehatan Kota Makassar, dr. Naisah Tun Asyikin mensinyalir bahwa tragedi ini bukan disebabkan karena korban tidak makan selama 3 hari, tetapi akibat menderita diare akut. Sementara, sumber lain mengatakan sebaliknya.
Informasi yang beredar menjadi simpang siur. Setelah melakukan investigasi dan mempelajari fakta yang ada, saya akhirnya mencoba mengambil kesimpulan sendiri; bahwa penyebab kematian tragis ini adalah kelaparan! Alasannya, patogenesis penyakitnya telah diawali oleh kelaparan yang kronik, sehingga berujung pada diare akut yang mematikan. Apalagi jika dilihat dari profil keluarga korban yang memang hidup nomaden dengan pendapatan ekonomi di bawah kebutuhan sehari-hari keluarga.
Ada beberapa catatan saya untuk kenyataan ini:
- Pemerintah, pada beberapa kasus yang jelas menunjukkan ‘borok’ kepemimpinan mereka, cenderung berupaya menutup-nutupi hal tersebut melalui ‘counter offer’ isu dengan memanfaatkan media massa. Saya pikir ini strategi yang cukup jitu. Hanya saja, saat ini tidak semua orang bisa tertipu dengan skenario penyelamatan diri seperti ini. Ke-goblog-an dr. Naisyah justru terletak pada ketergesa-gesaannya menyimpulkan penyebab kematian warganya sendiri, padahal kesimpulan tersebut justru sangat subjektif dan cenderung berakibat fatal. Ini semakin menggambarkan kualitas, dedikasi dan moralitas pemerintah kita!
- Jangan mudah terperdaya oleh media! Apalagi jika berita atau wacana yang ada berkaitan dengan kinerja pemerintahan. Pemerintah cenderung lebih (sangat) berkuasa dibanding kaum miskin.
- Kematian Dg. Beese dan anaknya, merupakan tragedi Hak Asasi Manusia (HAM) yang tidak dapat dimaafkan begitu saja. Pemerintah, bagaimana pun caranya, wajib bertanggung jawab! Ilham Arif Sirajuddin selaku Walikota Makassar dan seluruh jajarannya mesti melakukan klarifikasi atas hal ‘memalukan’ ini.
- Kasus kelaparan, gizi buruk dan gizi kurang merupakan fenomena gunung es (iceberg phenomenon). Artinya, masih besar kemungkinan peluang terjadinya kasus serupa –atau bahkan yang lebih berat lagi — pada masa mendatang, jika tidak segera dilakukan langkah antisipasi secara dini. Saya kira, pada wilayah ini, pemerintah tidak lagi boleh berperan hanya sebagai ‘pemadam kebakaran’ saja; ada api baru bergerak ke TKP.
Mari kita mengevaluasi diri masing-masing. Semoga kejadian tragis yang memilukan hati ini tidak lagi terulang di manapun di negeri ini.
Popularity: unranked [?]





















March 2nd, 2008 at 3:15 pm
Parah eman…pemerintah seperti dr.XXX itu emang goblok…. alasan meniggalnya sang warga tersebut karena diare emang betul juga tapi perlu dilihat juga kebelakangnya, kok bisa diare? yah karena mungkin yang dimakan gak ada akibatnya apa aja dimakan… Dokter goblok emang..pinter nyari alasan untuk menutupi keslahannya… BODOH!!!
[reply to this comment]
March 3rd, 2008 at 3:59 am
Duh, miris hati ini membaca berita tersebut. Tapi gak ada gunanya juga menghujat orang lain seperti itu. Coba kita tanya diri sendiri saja, apa yang sudah kita lakukan untuk mencegah hal tersebut terulang lagi di lain waktu? Setuju…?
[reply to this comment]
March 3rd, 2008 at 4:23 am
…jika saja anggaran pilkda yang milyaran itu jika digunakan saja untuk menyiapkan makanan layak bagi rakyat, saya kira kematian tragis macam begini tidak akan terjadi di negeri lumbung pangan ini. Saya sih tidak masalah kalau ada org yang menyalahkan pemerintah yang sedang berkuasa saat ini. Mungkin harus jauh lebih keras dan tegas lagi kemarahan kita, agar mereka bisa mulai mendengar dan melihat dengan hati!
[reply to this comment]
March 3rd, 2008 at 5:19 am
Saya datang lagi nih, pak Dokter. Boleh kan. Cuma mo minta sesuatu kalo boleh. Blog ini sudah saya link sejak blog saya masih beralamat di BlogSpot. Kalau Pak Dokter berkenan saya minta linkback. Thanks.
[reply to this comment]
March 4th, 2008 at 11:33 pm
inilah negeri preman, gak cuman di atas lho… liat aja di bawah… premanisme ada di mana2, termasuk preman pangan
[reply to this comment]
March 6th, 2008 at 8:56 am
Yang bikin aku ngenes bukan karena Pemerintahnya, tapi karena diri sendiri yang belum bisa berbuat banyak untuk masyarakat… Salam kenal ya…
[reply to this comment]
March 7th, 2008 at 8:13 am
Cuman bisa ikut prihatin
[reply to this comment]
March 7th, 2008 at 8:26 am
Saya juga bisa ikut merasakan keprihatinan itu..
[reply to this comment]
March 8th, 2008 at 5:59 am
To Bung Isnaini, problemnya sdh diperbaiki. Ternyata ada pada plugin-nya. Thanks bung!
[reply to this comment]
May 15th, 2008 at 5:06 am
Memang begitulah INDONESIA,,
qta udah memberi komentar sie bagus berarti kepedulian qta cukup tinggi juga terhadap masalah kesehatan di Indonesia
tapi yahhh sebaiknya sie enggakomentar doank,,tapiikut berkontribusijuga dengan menyumbangkan makanan, infaq, dan shodaqohnya ke orang2 yang membutuhkan,,
engga perlu jauh2 sampe ke Makassar segala, tapi cukup ke tetangga sekitar qta, tetangga belakang rumah, depanrumah rumah, sebelah kanan rumah, sebelah kiri rumah, atau tetangga yang masihsatu RT atau masi9h satu RW.
Tolong Liat, masih ada yang gak makan sama sekali dalam sehari enggak?
atau cuma makan 1x doank sehari?
atau keluarga miskin yang anaknya banyak dan masih kecil2 trus kerjanya jg cuman buruh pabrik atau kuli bangunan?
bahkan cuman kerjanya sebagai pemulung? atau malah gak punya kerjaan sama sekali?
kalo masih ada berarti kamu sendiri juga enggak perduli donk dengan nasib mereka, sama seperti dokter “goblok”yang tadi kamu kata2in, hehehe….
[reply to this comment]
May 15th, 2008 at 5:16 am
COBA SADAR DIRI MASING-MASING,
MASIH SUKA BERFOYA2 DENGANJALA2 KE LUAR NEGERI?
MASIH SUKA GONTA GANTI HP YANG HARGA MAHAL BANGET DAN GA MAU BELI HP YANG CUMA FITURNYA DIKIT TAPI MURAH?
MASIH SUKA HANG OUT YANG ENGGAK PENTING DI MALL - MALL MEWAH DAN BELANJA2 BAJU YANG 1 POTONGNYA BISA SAMPE 1 JUTA?
ATAU MASIH SUKA PILIH2 BARANG BERMEREK YANG EMANG HARGANYA MAHAL, DARIPADA PILIH BARANG BERKUALITAS, AWET, ENGGAK BERMEREK TAPI HARGANYA MURAH?
TERUS JUGA MASIH SUKA MALES UNTUK NGEBANTU ORANG MISKIN DAN ENGGAK MAMPU?
KALO IYA ,,, BERARTI KAMU SAMA AZA ENGGAK PEDULI DENGAN BENCANA KELAPARAN SEPERTI YANG DIBERITA DI ATAS TADI… IYA KHAN..
[reply to this comment]
May 15th, 2008 at 5:18 am
fdgrtrhgfhg
[reply to this comment]