Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap produksi yang beredar dipasaran. Untuk menjamin keamanan pangan olahan, maka dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, produsen industri makanan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari produsen, dengan pengaturan dan pembinaan dari pemerintah.
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih praktis dibanding dengan bentuk segarnya. Semua jenis makanan siap santap dan minuman awet tersebut dapat menjadi busuk dan masih layak untuk dikonsumsi. Kemudahan tersebut dapat terwujud diantaranya berkat perkembangan teknologi produksi dan penggunaan Bahan Tambahan Makanan (BTM).
Salah satu masalah keamanan pangan yang masih memerlukan pemecahan yaitu penggunaan bahan tambahan, untuk berbagai keperluan. penggunaan Bahan tambahan makanan dilakukan pada industri pengolahan pangan maupun dalam pembuatan, berbagai pengaruh jajanan yang umumnya dihasilkan oleh industri kecil atau rumah tangga.
Penggunaan Bahan Tambahan makanan yang tidak memenuhi syarat termasuk bahan tambahan memang jelas-jelas dilarang, seperti pewarna, pemanis dan bahan pengawet. Pelarangan juga menyangkut dosis penggunaan bahan tambahan makanan yang melampaui ambang batas maksimum yang telah ditentukan (Effendi, 2004). Batas maksimum penggunaan siklamat adalah 500 mg – 3 g/kg bahan, sedangkan untuk sakarin adalah 50-300 mg/kg bahan (Depkes, 1997). Batas Maksimun Penggunaan pewarna sintetik yang dizinkan seperti Pancrew 4 R : 300mg/Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset yellow : 100mg/Kg bahan makanan (Depkes, 1998).
Diantara beberapa bahan tambahan makanan, yang sangat sering digunakan adalah pemanis dan perwarna sintetik. Pemanis sintetik sering digunakan oleh produsen pada makanan/minuman jajanan. untuk mendapatkan rasa yang lebih manis dengan harga yang murah dibandingkan pemanis alami., yang pemakaiannya menurut peraturan menteri kesehatan 208/ menkes/ per/ IV/ 85, hanya digunakan pada penderita diabetes mellitus dan penderita yang memerlukan diet rendah kalori yaitu sakarin dan siklamat (Depkes, 1997). Sementara pewarna digunakan produsen untuk memberikan penampilan yang menarik pada hasil produksi mereka melalui penggunaan bahan–bahan tambahan kimiawi untuk makanan (BTM) atau Food Additives.
Menurut WHO makanan jajanan di Indonesia tidak menerapkan standar yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO). Selain itu balai POM Jakarta juga telah memantau makanan jajanan anak sekolah selama tahun 2003 sedikitnya 19.465 jenis makanan yang dijadikan sampel dalam pengujian tersebut ditemukan 185 item mengandung bahan pewarna berbahaya, 94 item mengandung Boraks, 74 item mengandung formalin, dan 52 item mengandung Benzoat atau pengawet yang mana kesemuanya ditemukan dalam makanan dengan kadar berlebih, sehingga mengharuskan Badan POM menariknya dari pasaran.
Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian BPOM terhadap 163 sampel dari 10 propinsi dan sebanyak 80 sampel (80%) tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan produk. Dari produk makanan jajanan itu banyak ditemukan penggunaan bahan pengawet dan pewarna yang dapat mengganggu kesehatan anak sekolah seperti penyakit kanker dan ginjal. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Ravianto ( 2000 ) di kota Makassar menunjukkan bahwa semua sampel (100%) makanan dan minuman jajanan yang dijual di lapangan Karebosi mengandung siklamat.
Penelitian lain menunjukkan bahwa dari 19 jenis makanan dan minuman jajanan yang dijual di kompleks SD Sudirman kota Makassar ditemukan 15 jenis jajanan masih menggunakan pemanis sintetik berupa sakarin dan siklamat (Sukmawati, 2000). Fakta ini di perkuat oleh hasil pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Obat makanan (BPOM) Makassar pada tahun 2003 tedapat lebih 90% makanan jajanan yang masih menggunakan pemanis buatan berupa sakarin dan siklamat serta pewarna tekstil ( Sumber: Republika Online – 10 oktober 2003 – Laporan: WED )
Untuk menghasilkan produk-produk makanan yang bermutu harus menggunakan beberapa jenis bahan tambahan makanan yang aman dikonsumsi dan telah diizinkan Depkes. Tujuan penggunaan bahan tambahan makanan untuk mendapatkan mutu produk yang optimal. Dalam hal ini penggunaan bahan tambahan makanan, tentunya tidak terlepas dari aspek-aspek pemilihan atau penetapan, pembelian, aplikasi, cara mendapatkannya, ketersediaan bahan tambahan makanan, dan peraturan pemerintah mengenai bahan tambahan makanan.
ARTIKEL MENARIK LAINNYA:


Asta Qauliyah aka Asri Tadda adalah seorang blogger lelaki yang aktif berkecimpung di dunia 


aq ijin download data buat tgs ok!!thank..
[Reply]
aq ijin download data buat tgs ok!!thank..
[Reply]
Om, buLek, Pak, Ibu atO Mas..
aku mau nanya apa bahan pengawet buat GULALI, agar tidak meleleh dalam jangka panjang kurang lebih 2 sampai 3 bulan…..???
yang jelas tidak melanggar SNI pengawet..
tOLOng di jawab yach….^_^.
thanks be 4….
[Reply]
Sekarang roti menjadi hot issue di Amerika ketika org Amerika-pun sekarang ini menjerit: Too Much Bread Improver, Too much Bread softener, Too Much Preservative.
Pengujian roti di Malaysia menunjukkan bahwa 92% dari roti yang ber-edar (termasuk roti ternama atau roti yang dihidangkan di restoran siap saji) mengandung pengawet hingga 5 kali dari yang dibenarkan oleh undang-undang.
Diperkira-kan hal yang sama juga terjadi pada industri makanan di Indonesia-pun.
Di Indonesia makanan basah seperti mie basah, bakso basah, tahu basah, roti, dll, mengandung terlalu banyak pengawet. Dan karena mau murah mereka memakai pengawet yang bukan food grade. Padahal kebanyakan pengawet dihubungkan dengan penyakit ADD hiperaktive. Dan Bread Improver yang terlalu banyak untuk supaya roti dapat mengembang besar sekali bisa menimbulkan kanker (Source Wikipedia: Bread Improver)
Kemarin ini di sekolah untuk anak kurang mampu, aku lihat anak cewek umur 5 tahun cakep, tapi kalau diperhatikan lagi anak kecil ini terkena penyakit ADD hiperactive(Jadi kerja-nya goyang melulu). Kasihan sekali, ya !!
Sekarang juga sudah ada pengganti roti yang lebih sehat, yaitu roti beras kering (rice cake).
Kalau yang buatan Australi nama-nya Sun Rice, kalau yang buatan lokal nama-nya N_asiKriuk Debbie (Tersedia di All Fresh atau Mini market Nano Pluit atau Supermarket Rezeki). Harga-nya juga tidak mahal.
Rice cake /roti beras kering ini:
Karena kering, tidak perlu pengawet.
Karena terbuat dari beras, tidak perlu pengembang yang bisa menyebabkan kanker.
Karena terbuat dari beras, bukan gandum, rendah kalori-nya, bisa tetap langsing.
Karena banyak-nya obesitas (kegemukan), org Amerika sekarang juga berpindah dari gandum ke beras (cereal mereka yg pakai beras seperti cocoa puff atau rice krispy).
Trm kasih.
[Reply]
Makan Roti Kok Tambah O ‘On
Sekilas info untuk teman-teman, saya ingin berbagi informasi mengenai beberapa hal yang mungkin berguna bagi kita semua.
Kemarin ini saya tertawa terkekeh-kekeh karena ada orang berkata: Anak saya, saya makanin roti tiap hari, koq nggak tambah pintar, tapi tambah O’On (Bloon).
Inilah perkataan Sue Dengate mengenai pemakaian pengawet roti supaya roti bisa awet lebih dari 2 hari yg saya quote dari artikel “Bread for success”:
Author and food intolerance counsellor Sue Dengate has researched calcium propionate, commonly known as preservative 282 in bread.
“I think parents should know that there is a preservative in what we regard as a healthy food that is eaten several times a day by most children that can affect behaviours and learning disabilities,” Ms Dengate said.
Preservative 282 is a mould inhibitor that is added to bread.
“Most people think that additives are tested before approval,” Ms Dengate said. “Well I’ve got news for you, they are not tested for effects in children’s learning and behaviour.”
The latest research suggests preservative 282 may cause permanent changes to the brain in rats, along with long-lasting defects in learning abilities.
“All we can say is if it’s causing permanent damage in brains of rats what’s it doing to the brains of our children?” Ms Dengate said.
Hasil dari penelitian di Malaysia terdapat sekitar 92% roti yang beredar (termasuk roti merek terkenal) menggunakan pengawet lebih banyak sampai 5x dari jumlah yang diijinkan oleh undang-undang. Bagaimana dengan roti yang ada di Indonesia? Informasi yang saya peroleh juga sangat memprihatinkan. (mungkin teman-teman ada yang bisa sharing).
Sebagai ganti roti, ada produk yaitu rice cake (roti beras panggang) seperti “N_asiKriuk Debbie, atau Sun Rice dari Australia untuk menyelingi makan roti. Rice cake ini kering dan tak ber-pengawet, sehingga kadar pengawet dalam tubuh & otak tidak terlalu menumpuk.
Kelebihan dari roti beras panggang sebagai pengganti roti yang lebih sehat antara lain:
- Karena kering, tidak perlu pengawet.
- Karena dari beras, rendah kalori-nya.
- Proses pembuatannya tidak menggunakan pengembang (bread improver) dan pemutih.
Dengan banyak-nya masalah obesitas, Amerika pun sekarang ber-alih ke produk2 yang terbuat dari beras dan ber-bentuk kering, spt rice crispy atau rice cereal.
Terima kasih.
Roti Beras Panggang N_asiKriuk Debbie atau Sun Rice bisa anda dapatkan di supermarket Rezeki, Nano-Pluit dan All Fresh.
[Reply]
aq jg ijin download data buat tgs ok!!thank..
tp sayang ada kutipan tp g’ ada dapus,,,
bingung… >.<
[Reply]