Cerita Tentang Senja
Posted by | Published on May 1st, 2007
Sore tadi saya sempat meluangkan waktu untuk sekadar jogging di tepi danau unhas. Lumayan. Diburu waktu yang sedikit lagi menjelang magrib, saya berhasil melakukan satu putaran penuh danau, tanpa berhenti. Di tengah pelarian, saya juga sempat berpapasan dengan si beruang iqko yang rupanya lagi asyik dengan teman-temannya. “Menikmati danau juga”, pikirku.
Sebagai informasi, kebiasaan jogging sebenarnya baru mulai hadir dalam dua pekan terakhir. Ini juga berkat dorongan dari teman-teman di Green Ranch Palace (GRP). Biasanya jogging bareng dengan GRP Crew (Aslan, Hadi, Arpan, Isal, dkk). Tapi sore tadi cuman sendiri. Asli solo run! Asyik juga.
Dalam perjalanan sepulang jogging, lewat jalur KMPT (baca: pondokan tamalanrea), semburat jingga sore di langit barat tampak begitu memukau. Memang, senja dilihat dari UNHAS juga cukup mempesona. Coba saja kalau tidak percaya!
Begitu sampai di kamar, terasa deh cape’nya. Tapi ada niatan untuk sekadar membagi pengalaman sore ini. Saya ambil handphone, mulai menuliskan pesan singkat. Mau tau apa isinya?
Create New Message :
“Senja selalu menyisakan rona.
Kepadanya, segala indah hari menggayut, menjemput jemari malam.
Pada setiap tanah tempat menjejak,
kita selalu ‘kan mengaguminya…”
Message sent succes
Tidak berapa lama, SMS balasannya muncul.
Selalu saja terlena buai romantisme senja…
Keluarlah dari lingkaran pengagumnya, karena dia “terbenam”
Dengarkan nyanyian subuh, dan
“terbit”lah!
Tidak sabar, kubalas dengan :
“Duhai sang pengagum subuh. Sadarkah jika subuh terlalu elitis, karena hanya bisa dinikmati segelintir orang?
Berbeda dengan senja, meski selalu berakhir terbenam, hadirnya tetap dinantikan beribu hati.
Ia melukiskan pada kita tentang masa, bahwa esok masih selalu ada untuk
hidup yang belum berakhir hari ini.
Dan malam hanyalah jeda!”
Beberapa saat sebelum menuliskan postingan ini, SMS-nya masuk lagi:
“Semua melihat “jingga” dan memaknainya “indah”…..
tapi tidakkah dia terlihat seperti “merah yang sekarat”?!!
Sampai akhirnya malam menghapus jejak jingganya sekalipun….
Eks *sebagian teks hilang*”
Tak lagi tergerak membalas, dalam hati kuberbisik :
“Semoga subuhmu selalu engkau jemput dengan kesan jingga sore yang indah tadi”
Popularity: unranked [?]























May 2nd, 2007 at 5:08 am
romantis banget puisinya.
OK deh, aku link.
[reply to this comment]
May 2nd, 2007 at 12:46 pm
jingga memang membangga
bagi sementara pujangga
ku harap setiap insan pun berbangga
pada setiap nilai seindah jingga
jingga hanyalah warna
tak mampu mewarna tanpa cahaya
bahkan jingga tak kuasa di gelapnya
jinggaku bisakah tetap mempesona
menjingga meski gelap angkasa
menerang meski gelap sana
namun di hatimu tetap merona
sebaba maha cahaya menyesap disana
adakah yang bisa menggelapinya?
————–
salam mas maaf ga kemari2…
aku mau konsultasi ttg web bolehkan ya ya ya… [dengan menundukkan badan]
[reply to this comment]
May 2nd, 2007 at 12:48 pm
koreksi mas…
menerang meski gelap sana
sana diganti di sana
sebaba -diganti sebab
makasih lalau dideletlah msg ini ///
makasih makasih makasih
[reply to this comment]
May 6th, 2007 at 11:53 am
hika,hiks piye to iki puisi kok isa bikin nangis ya
ok mas tetaplah engkau terbuai dgn jinggamu sampai engkau menemukan cahaya mu sendiri ditengah ronanya kegelapan malam.
———–
eits jangan lupa tetap memakai template yang lama ^_^
[reply to this comment]
May 8th, 2007 at 1:13 am
weits…bravo! jd speachless! Ni orang otak kanan ma otak kirinya ‘jalan bareng’ ya? (The Almighty loves u very much) btw, makannya apa sie?
thanks 4 having a blogwalking to mine.
[reply to this comment]
May 8th, 2007 at 10:37 am
jogging ?? wah sungguh menyegarkan badan setelah kita berolahraga..
[reply to this comment]