Hari Tuberculosis Sedunia

Hari Tuberculosis Sedunia

Mungkin ada yang bertanya, mengapa peringatan hari TB sedunia (HTBS) dilakukan setiap tanggal 24 Maret? Jawabannya adalah untuk mengenang dan sebagai penghormatan kepada ilmuan Jerman Robert Koch yang lahir 24 Maret 1882, penemu kuman “Mycobacterium Tuberculosis” penyebab penyakit Tubercolosis yang di Indonesia dikenal dengan TBC.

Tahun ini tema peringatan HTBS dari WHO adalah “TB Anywhere is TB Everywhere“. Mengingat penyakit TBC merupakan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh jajaran kesehatan sendiri, tetapi bersama seluruh komponen masyarakat maka Indonesia menetapkan tema “Siapa dan Dimana Saja Peduli TBC “.

Maksud dipilihnya tema tersebut adalah sebagai momentum untuk mengingatkan sekaligus mengajak kita bersama-sama melakukan aksi atau tindakan yang konkrit dalam penanggulangan TBC di Indonesia.

Puncak peringatan HTBS dipusatkan di Makassar tanggal 24 Maret 2007 lalu, tepatnya di Baruga AP Pettarani Kampus Unhas Tamalanrea.

Situasi TBC di Indonesia dan kemajuannya :

# Strategi DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse = pengobatan jangka pendek dengan pengawasan) pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1995 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam system pelayanan kesehatan masyarakat.

# Penemuan kasus TBC di Indonesia (CDR=Case Detection Rate ) pada tahun 2005 adalah 68%, telah mendekati target global untuk penemuan kasus pada tahun 2005 sebesar 70% dan target 2007 menjadi 74%. Sedangkan angka keberhasilan pengobatan (Success Rate = SR) mencapai 89,7% melebihi target WHO sebesar 85%.

# Jumlah kasus TBC yang ditemukan meningkat secara nyata dalam beberapa tahun terakhir. Angka penemuan kasus BTA positif baru meningkat dari 38% di tahun 2003 menjadi 54% di tahun 2004 sebagai hasil ekspansi DOTS yang dipercepat dengan dukungan donor internasional yang meningkat seperti (GF ATM, USAID (TBCTA), CIDA, DFID dan lain-lain dan bantuan teknis dari para mitra Stop TBC khususnya WHO dan KNCV.

# Kemajuan nyata dicapai dalam menurunkan prevalensi TBC di Indonesia. Wilayah Jawa-Bali telah menunjukkan penurunan angka prevalensi setengahnya, sedangkan untuk wilayah-wilayah yang sulit terjangkau juga menunjukkan penurunan yang signifikan meskipun kemajuannya lebih lambat.

# Dampak epidemiologi menunjukkan trend penurunan insidens TBC di masyarakat yaitu 128/100.000 penduduk pada tahun 1999 menjadi 107/100.000 penduduk pada tahun 2005. Namun demikian berdasarkan survey pravalensi Nasional TBC oleh Badan Litbangkes tahun 2004, menunjukkan sebaran insidens TBC per 100.000 penduduk yang variatif dalam 4 regional, yakni Yogya/Bali (64/100.000 penduduk), Jawa (107/100.000 penduduk), Sumatera (160/100.000 penduduk) dan KTI (210/100.000 penduduk)

# Sejak 1999/2000, 98% Puskesmas dikembangkan untuk melaksanakan DOTS, namun secara kualitas ditingkatkan bertahap melalui intensifikasi seperti pelatihan, magang dan bimbingan teknis. Ekspansi yang cepat melalui keterlibatan seluruh BP4 dan RS Paru serta kurang lebih 30% RS dalam pelayanan TBC dengan strategi DOTS.

Tantangan TBC di Indonesia

* TBC ditularkan melalui percikan dahak penderita ketika batuk, bersin, berbicara atau meludah. Seorang penderita TBC dengan status BTA positif dapat menularkan kepada 10-15 orang setiap tahunnya. Beban TBC di Indonesia masih sangat tinggi, khususnya mengenai angka kesembuhan yang ada.

* Total pasien baru (BTA positif dan BTA negative) TBC di Indonesia lebih dari 600.000 orang per tahun. Terdapat perbedaan besar dari angka penyakit TBC di wilayah Sumatera, Jawa-Bali, dan kawasan Timur Indonesia.

* Insidens kasus BTA positif (menular) tahun 2005 diperkirakan 107 kasus baru/100.000 penduduk (246.000 kasus baru setiap tahun) dan prevalensi 597.000 kasus dalam semua kasus.

* TBC adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan peringkat ketiga dalam daftar sepuluh penyakit yang tertinggi di Indonesia yang menyebabkan sekitar 100.000 kematian setiap tahunnya atau dalam sehari terjadi 300 kematian karena TBC.

* Sebagian besar penderita TBC usia produktif (15-55 tahun )

* Intervensi bersama TB-HIV: HIV meningkatkan kejadian TB dan angka kematian di wilayah dengan prevalensi HIV tinggi (11-50 % pasien HIV/AIDS meninggal karena TBC).

* Indonesia mempunyai epidemi HIV yang terkonsentrasi. Prevalensi pada orang dewasa (15-49 tahun) diperkirakan <0,2% dengan kejadian terbesar di Prov. Bali, Jawa Timur, Papua, Riau, Jakarta dan Jawa Barat. Surveilans HIV pada pasien TBC belum dilaksanakan di Indonesia. Wilayah dengan resiko tinggi HIV perlu mendapat prioritas program TBC.

* Surveilans kekebalan obat TBC belum dilaksanakan di Indonesia. Survei-survei terbatas yang dilaksanakan di Jakarta menemukan adanya kasus kekebalan obat TBC pada lebih dari 4% kasus-kasus yang tidak diobati sebelumnya. Suatu survey yang representative diperlukan untuk mengetahui situasi di Indonesia (perkiraan Nasional dari WHO adalah 1,6%).

* Terdapat kelompok-kelompok populasi khusus yang rentan terhadap TBC yaitu perempuan, anak, manula dan orang-orang dengan resiko penularan tinggi seperti para Napi (narapidana) dan kaum pendatang.

* TBC sangat berpengaruh terhadap kaum miskin. Menurut Bank Dunia, 53% penduduk berpenghasilan kurang dari US$ 2 per kapita per hari, dan 37 juta orang hidup dibawah garis kemiskinan (2003), karena itu mengobati TBC berarti menangani kemiskinan. Dalam hal ini pemerintah memberikan terapi DOTS secara gratis. Untuk pemeriksaan dahak di Puskesmas, pemerintah telah memberikan subsidi untuk Reagensia (zat kimia yang diperlukan untuk tes TBC di laboratorium) yang cukup untuk semua daerah

Target Global/Dunia TBC

o Menuju target 70% penemuan kasus, secara global angka penemuan kasus dunia pada 2005 adalah 59%. Indonesia berhasil mencapai deteksi kasus 68% pada tahun 2005 hal ini juga medapat apresiasi di tingkat internasional saat menghadiri pertemuan Executive Board Stop TB tahun lalu di Nigeria. Apabila percepatan dalam penemuan kasus dapat dipertahankan, maka program DOTS akan mendeteksi lebih dari 70% kasus pada tahun 2006.

o 75% dari BTA positif tambahan yang dilaporkan program DOTS pada tahun 2005 berada di Cina, India dan Indonesia. Ketiga Negara ini telah mendorong percepatan global dalam deteksi kasus.

o Strategi nasional sejalan dengan petunjuk Internasional (WHO DOTS dan strategi baru STOP TB), serta konsisten dengan rencana global penangulangan TBC yang diarahkan untuk mencapai target global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Millennium 2015.

o Kontribusi nyata dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota dan masyarakat luas untuk mecapai target Nasional maupun indikator-indikator yang ditetapkan WHO sangat diharapkan saat ini.

Suka dengan artikel saya? Baca via email yuk! GRATIS..

Kategori Artikel :: Kata Kunci: , , , , , , , ,15 Komentar

Tentang AstaQauliyah.com

Telah ada 481 artikel di ASTAQAULIYAH.COM

Blog ini dikelola oleh Asta Qauliyah. Sejak tahun 2008, Asta Qauliyah aka Asri Tadda bekerja sebagai full-time blogger dan SEO konsultan sekaligus berhenti dari program pendidikan klinik di Fakultas Kedokteran Unhas Makassar yang selama ini digelutinya. Kini, Asta Qauliyah tengah mengembangkan AstaMedia Group, sebuah perusahaan internet marketing dan blog advertising yang berbasis di Makassar dengan sejumlah layanan online dan sayap bisnis di sektor ril. Anda bisa menghubungi Asta Qauliyah melalui jejaring sosial di bawah ini:

Twitter | Facebook | LinkedIn | Google Profile+ | FriendFeed