LATEST NEWS

Mau Tahu Cara Mendapatkan Uang dari Blog? Silahkan ikuti tutorial Asta Qauliyah tentang Blog Advertising dan Beragam Jalan Menghasilkan Uang dari Bisnis Online di blog ini..



Fenomena III, Siapa Bilang Sehat itu Gampang?

Oleh Asta Qauliyah | March 19th, 2007

“Tripple Burden” dan Agenda Siklik Infeksi Tropik

Karakteristik penyakit yang terjadi pada setiap negara berdasarkan tingkat perkembangannya mencakup tiga domain penyakit (triple burden), yaitu penyakit infektif, penyakit kardiovaskular, dan penyakit degeneratif. Penyakit infektif banyak terjadi pada negara yang belum berkembang yang disebabkan oleh antara lain masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dan pengetahuan publik akan pentingnya kesehatan, sehingga hampir sebagian besar masyarakatnya berada pada status yang sangat rentan untuk terinfeksi penyakit.

Pada sisi lain, ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang kurang memadai pada negara-negara yang belum berkembang turut memberi kontribusi berkembangnya penyakit-penyakit infektif.

Penyakit kardiovaskular menjadi penyerta negara sedang berkembang. Negara ini memiliki kecenderungan mengupayakan efisiensi dan efektivitas di mana setiap orang berkompetisi untuk bekerja dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beraktivitas, sehingga sistem pelayanan serba cepat pada fasilitas public service menjadi karakteristiknya. Akibatnya, relatif tidak diperhatikannya lagi pola konsumsi/diet gizi yang sehat menjadi sumber permasalahan kesehatan pada segmen negara ini. Di negara inilah mulai muncul layanan fast food/junk food dan berbagai produk konsumsi masyarakat dengan standarisasi kesehatan yang tidak mendapatkan perhatian yang serius, sehingga prevalensi timbulnya penyakit kardiovaskular menunjukkan angka yang cukup signifikan. Pada sisi lain, tingkat pencemaran lingkungan di negara sedang berkembang terjadi secara massif, antara lain karena masih minimnya penggunaan teknologi modern non polutif dan trend industrialisasi yang secara psikologis menggembirakan banyak orang sehingga otomatis dampak buruknya, seperti polusi belum menjadi ketakutan publik.

Sementara penyakit degeneratif menjadi ciri khas negara maju. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan serta ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan pada negara maju sedikit banyak telah meningkatkan angka harapan hidup masyarakatnya, dan angka kematian dapat ditekan pada margin yang serendah-rendahnya. Hanya saja, peningkatan angka harapan hidup masyarakat di negara-negara maju berjalan seiring dengan munculnya penyakit-penyakit degeneratif akibat kelanjutan usia (geriatrikal disease). Di samping itu, penyakit degeneratif antara lain juga disebabkan oleh beban psikologis dan kejenuhan akibat statisnya peradaban di model negara seperti ini.

Fenomena triple burden ini sebenarnya dapat kita jadikan sebagai parameter penilaian keberhasilan program pembangunan suatu negara, khususnya sektor kesehatan. Dengan mengasumsikan bahwa sektor kesehatan tidaklah berdiri sendiri, tetapi bagian integral dari kompleksitas aspek kehidupan masyarakat, maka kita dapat saja menggeneralisir penilaian bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan merupakan refleksi kesuksesan pembangunan suatu negara secara menyeluruh. Secara sederhana dapat diterjemahkan bahwa jenis penyakit dominan yang berkembang di sebuah negara menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan negara tersebut.

Berdasarkan hal di atas, sebagai negara yang “sedang berkembang”, Indonesia logikanya tinggal bergelut dengan penyakit kardiovaskular saja, di mana penyakit infektif tidak lagi menjadi domain problem kesehatannya, sehingga fokus pengembangan kebijakan kesehatan dapat dilakukan secara baik dan terencana, di samping mempersiapkan program preventif berkembangnya penyakit degeneratif pada tahap berikutnya. Tetapi pada kenyataan bercerita lain. Saat ini kita diperhadapkan pada kompleksitas masalah kesehatan dengan domain penyakit infektif tropik dan kecenderungan berkembangnya penyakit kardiovaskular. Pun tidak ketinggalan indikasi munculnya beragam penyakit degeneratif. Secara periodik setiap tahunnya kita selalu diperhadapkan dengan endemi malaria dan demam berdarah, di lain pihak kita juga tidak pernah bisa terbebas dari kasus kematian akibat penyakit gangguan kardiovaskular, misalnya stroke, hipertensi, tuberculosis dan beragam penyakit lainnya. Beberapa kasus menunjukkan indikasi bahwa penyakit degeneratif mulai berkembang di negara kita.

Realitas objektif yang demikian mensyaratkan munculnya bermacam pertanyaan yang akan meredefenisikan makna pembangunan nasional kita, mungkin ada yang ‘salah’ dalam paradigma pembangunan kesehatan yang selama ini kita langsungkan. Mengapa setiap tahun kita masih dipusingkan dengan penanganan kasus demam berdarah dan malaria, sementara pada dasarnya burden fase infektif ini telah lama berlangsung, bahkan sejak masa penjajahan Belanda dulu? Mengapa kebijakan pembangunan tidak memfokuskan diri menyelesaikan kasus ini terlebih dahulu sebelum membuat program mega trend lainnya? Bukankah semua ini menunjukkan bahwa negara kita belumlah pantas disebut “negara sedang berkembang”, tetapi masih sebagai “negara belum berkembang”?

Pada sekitar tahun 80-an, Indonesia sempat ngetrend dengan julukan ‘Macam Asia’. Dengan standar keberhasilan pada konteks 80-an, untuk kawasan Asia Tenggara, kita adalah jawaranya. Prestasi pembangunan kita berada jauh di atas negara lainnya pada hampir semua sektor kehidupan, termasuk kesehatan. Tetapi selama kira-kira satu dekade berikutnya (90-an), ternyata Malaysia telah mampu bersaing dengan kita, bahkan pada bidang tertentu, kita malah telah tertinggal. Setengah dekade berikutnya, hampir sebagian besar negara Asia Tenggara bahkan telah jauh meninggalkan Indonesia, yang rupanya tetap stagnasi dengan program pembangunan non-sistemiknya. Filipina, Thailand, bahkan Brunai Darussalam dan Vietnam pun telah menunjukkan prestasi gemilang pembangunan nasionalnya. Angka HDI (Human Development Index) yang dikeluarkan WHO pada tahun 2002 saja menunjukkan ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, (urutan 110 dari 175 negara, sedangkan Vietnam di urutan 95). Kondisi ini cukup ironis mengingat usia bangsa ini telah melewati setengah abad. Seharusnya dengan usia yang sudah ‘matang’ itu, kita telah menjadi negara termaju, minimal di Asia Tenggara. Tapi nyatanya?

Siklus Infeksi Tropik (Kasus Kota Makassar)

Sebagai daerah tropis, Makassar – sebagaimana daerah lain di Indonesia, mengalami musim pancaroba minimal sekali dalam setahun. Tenggang waktu pergiliran musim ini, banyak berpengaruh pada kondisi lingkungan sekitar. Musim penghujan yang hadir pada penghujung tahun dan sekitar awal tahun baru di daerah ini, kerap kali menitipkan bencana banjir berkepanjangan akibat minimnya daerah resapan air dan terbatasnya kapasitas drainase kota. Pada daerah-daerah dataran rendah, genangan air banjir bisa bertahan hingga beberapa pekan lamanya, mengakibatkan kerugian materi maupun non materi yang cukup berarti.

Buruknya status lingkungan di kota ini – tak jauh berbeda dengan kota lain di Indonesia – kian digenapkan oleh kesan semrawut tata kota yang tak jelas wawasan kesehatannya. Permukiman-permukiman yang banyak menutupi daerah resapan air, menumpuknya sampah rumah tangga di kanal-kanal dalam kota serta tinggi-rendahnya aliran drainase kota adalah beberapa penyebab rutinitas banjir. Dalam perspektif kesehatan, kondisi lingkungan yang tidak “bersahabat” seperti itu, merupakan setting yang sangat kondusif bagi perkembangan penyakit-penyakit infeksi. Secara bersamaan, imunitas tubuh akan menurun akibat labilnya cuaca dan suhu sekitar yang lebih diperparah jika kita tidak menjaga kesehatan dengan cara yang benar. Kondisi seperti ini memungkinkan penyakit diare, ISPA, demam berdarah, dan malaria terjadi dalam skala massif bahkan tidak mustahil menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Tahun 2003 lalu, kota Makassar diperangah oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) demam berdarah (DHF/Dengue Haemorragic Fever) yang meminta ratusan korban. Karena banyak menyerang anak-anak, sebagian besar bangsal perawatan anak rumah sakit di kota ini penuh terisi anak-anak DBD. Ironisnya, sebagian besar kasus terjadi pada keluarga miskin yang bermukim di kawasan kumuh padat penduduk di dalam kota. Selain itu, insiden penyakit diare seakan tak mau ketinggalan. Tak berlebih jika mengatakan bahwa insiden penyakit dan orang yang sakit berbanding lurus dengan tingkat banjir dan daerah lokasi banjir. Lain lagi dengan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang banyak menyerang anak-anak dan usia tua. Tingginya tingkat infektif penyakit ini menyebabkan prevalensinya cukup besar terlebih dalam kondisi lingkungan yang lembab akibat hujan dan banjir.

Karena terlanjur, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kesehatan, akhirnya tak dapat berbuat banyak, apalagi untuk mencegah perjangkitan saat itu. Program pengobatan dan perawatan menjadi pilihan satu-satunya. Padahal, masukan dan saran dari berbagai pihak, telah disuarakan jauh sebelum musim pancaroba tiba. Berbagai dalih dikeluarkan, sekadar memperkuat alasan untuk hanya berkutat mengobati dan menanggulangi bencana yang ada. Banyaknya korban dan atas desakan dari berbagai pihak, komitmen untuk memperbaiki program promosi dan preventif (pencegahan) pada masa mendatang, akhirnya muncul juga dari dinas kesehatan kota.

Beberapa bulan sebelum memasuki pancaroba tahun 2004, pihak dinas kesehatan kota menggelar program pemberantasan demam berdarah. Perang melawan demam berdarah didengungkan melalui upaya penyemprotan rumah-rumah penduduk (fogging), abatesasi (pemberian bubuk abate di setiap penampungan air dalam rumah) maupun pemusnahan jentik-jentik nyamuk. Sekian dana dianggarkan untuk tekad membebaskan Makassar dari demam berdarah pada tahun 2004. Bahkan, KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin pun diturunkan ke dalam kota untuk membantu pihak pemerintah kota berperang melawan DBD, khususnya untuk memberantas jentik-jentik nyamuk Aedes aegypty – penyebab tunggal demam berdarah (DHF).

Saat kembali memasuki pancaroba, riuh-rendah perang melawan demam berdarah akhirnya menuai hasil. Lagi-lagi kita belum berhasil, kalau tak mau disebut: gagal. Bangsal-bangsal perawatan anak di sejumlah rumah sakit di kota ini, kembali harus disiapkan menampung pasien DBD, diare, dan ISPA. Tidak nampak signifikan hasil perang melawan DBD pada bulan-bulan sebelumnya. Padahal, kita telah mengeluarkan begitu banyak uang rakyat.

Kredibelitas pemerintah kota, dalam hal ini dinas kesehatan, kembali dipertanyakan. Betapa tidak, klaim-klaim bahwa upaya pencegahan telah optimal dilakukan ternyata tidak terbukti di lapangan. Pun jika ada, relatif sudah terlambat. Rumah-rumah penduduk yang bersticker “bebas jentik”, hampir semuanya masih menjadi sarang nyamuk demam berdarah. Konyolnya, tidak sedikit rumah yang tak berpenghuni justru bertuliskan “bebas jentik”. Ternyata, sebagian besar rumah penduduk bahkan tidak pernah diperiksa kondisi penampungan dan jentik-jentiknya, lalu dengan serta-merta dipasangi sticker “bebas jentik”.

Tak banyak yang berubah, malah mungkin lebih buruk dari sebelumnya. Musim penghujan belum seberapa lama, genangan air di sana-sini mulai bermunculan. Prevalensi diare, seakan tetap tidak mau kalah, meningkat drastis – membawa banyak korban. ISPA apalagi. Kota ini nyaris menjadi kota yang sedang menuju sakit. Pemerintah kota agaknya masih menunggu terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD dan diare untuk dapat memastikan, bahwa siklus infeksi tropik, kembali berulang. Sementara rumah sakit selalu terjaga menerima pasien demam dengue (Dengue Fever/DF) – predileksi demam berdarah (Dengue Haemmorragic Fever/DHF), ISPA, dan diare. Kita memang terbukti kalah perang, juga rugi uang.

Jika dikaji, secara tidak langsung dinas kesehatan kota tengah merakit bom waktu. Sejumlah anggaran pemberantasan demam berdarah menjadi layak untuk dipertanyakan pemanfaatan dan hasil yang didapatkan. Pemasangan sticker bebas jentik di rumah-rumah penduduk yang ternyata menjadi rumah pasien DBD, kian menguatkan kesan bahwa dinas kesehatan kota telah melakukan kebohongan publik – bahkan tindak penipuan terhadap masyarakat. Program pemberantasan jentik pada bulan-bulan yang lalu, terbukti gagal. Jentik nyamuk yang dulu coba diperangi, kini telah dewasa dan setelah meminta korban, kembali akan melahirkan jentik-jentik baru untuk korban berikutnya di waktu mendatang.

Dari perspektif hukum, pemerintah kota harus mempertanggungjawabkan hal ini. Jika saja kedewasaan hukum telah berkembang begitu baik di negara kita – seperti halnya di luar negeri, tidak mustahil dapat dilakukan semacam class action dari masyarakat, untuk menuntut pemerintah kota atas tindakan yang telah dilakukannya. Secara moral politis, kepercayaan masyarakat atas stakeholder kesehatan kota praktis menurun, jika tak hilang sama sekali.

Momentum siklik infeksi tropik saat ini, layak menjadi bahan refleksi bagi kita semua, untuk segera bercermin betapa masih buruknya sistem kesehatan di kota ini. Sekadar mengingatkan, insiden penyakit infeksi seperti DBD, ISPA, dan diare, hanya bagian kecil dari problem kesehatan kita saat ini. Karena kredibelitas terbangun melalui kinerja yang dihasilkan, maka dengan demikian, dinas kesehatan kota Makassar (perlu dipahami bahwa kasus Kota Makassar sesungguhnya tidak jauh berbeda demean kasus yang terjadi di kota lainnya di Indonesia) kembali menanggung beban ganda; menyelesaikan pengobatan dan perawatan pasien DBD, ISPA, dan diare saat ini, sekaligus mempersiapkan program pencegahan untuk masa mendatang.

Pertanyaannya, setelah program perang melawan DBD kita dengung-dengungkan saat ini, masihkah kita harus mengulang episode endemik sporadis DBD, diare, dan ISPA pada masa-masa mendatang?

Informasi lain yang terkait:

Postingan terkait di blog ini:


Dapatkan informasi terbaru dari Asta Qauliyah seputar Blog Advertising, Bisnis Online, Artikel Kesehatan/Kedokteran Populer dan sejumlah Tips dan Trik Blogging terbaru melalui email Anda:


Enter your email address:


LinkLift




Berikan Komentar Anda di Sini:

About

Astaqauliyah.com dikelola oleh Asta Qauliyah. Asta Qauliyah hanya nama cyber (cybername). Nama asli saya adalah Asri Tadda, kelahiran 3 April 1981 di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan SMA di SMU Negeri 1 Makassar tahun 1999,... Selanjutnya»

Ada 464 Postingan - 2,600 Komentar dan 62 Kategori di blog ini.

Berlangganan Lewat Email

Mau baca postingan blog ini lewat email? Caranya mudah!
Ketik alamat email di bawah ini lalu tekan ENTER

#1 Recommended Money Making

  • LinkLift
  • Best Webhosting 2010

      Cheapest Hosting

    • Blog Advertising

      LinkLift an alternative paid link broker

      Make Money Blogging dengan LinkLift

      Mau mendapatkan penghasilan yang lumayan dari menjual link di blog anda? Nah, saya mau memperkenalkan sebuah broker paid links dan blog advertising yang beroperasi sejak tahun 2006 lalu dan berpusat di Berlin, Jerman. Namanya LinkLift. Meski sudah lama berdiri,... 

      AdonBanner Redirect Problems

      Cara Mengatasi AdonBanner Redirect di Blog Anda

      Beberapa hari terakhir banyak blogger yang mengeluhkan halaman blog mereka berganti menjadi halaman parkir dengan nama domain adonbanner.com, sebuah situs layanan blog advertising Pay Per Click (PPC) berbasis gambar yang beberapa bulan lalu menghilang begitu saja... 

    • Aktivitas

      Program Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2009

      Ayo Ikuti Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2009

      Lama tidak posting lagi di blog ini. Selain sibuk dengan pekerjaan offline di AstaMedia Group, saya juga harus mengikuti rangkaian Workshop Wirausaha Muda Mandiri 2009 di Malang (menyusul di Manado dan Denpasar Bali) serta program Super Business Rich oleh ACTIONCoach... 

      Dari Samping: Ibu Leni Prihati, Asri Tadda, Onno W. Purbo dan Budi Putra

      Catatan Dari Grand Launching AstaMedia Blogging School

      Alhamdulillah, akhirnya Grand Launching AstaMedia Blogging School berlangsung dengan lancar seperti yang kami targetkan, kemarin (16/05) di Krakatau Room, Hotel Horison Makassar. Acara dimulai sejak pukul 08.00 WITA untuk registrasi peserta, dilanjutkan dengan... 

    • Blogger Tamu

      Indonesia Kita; Dari Flu Burung ke Flu Babi

      Terjangan virus flu burung (H5N1) belum lagi berakhir ketika virus baru Flu Babi atau swain flu (H1N1) mulai ditemukan pada pertengahan bulan Maret ini. Pandemi flu burung yang sangat mematikan kini mulai ditambah lagi dengan ketakutan akan serangan wabah flu babi... 

      Blogger Sebagai Profesi

      Blogger Sebagai Sebuah Profesi

      Apa motivasi yang melatar-belakangi Anda ketika pertama kali membuat blog? Jawabannya tentu saja bisa bermacam-macam. Namun kalau boleh saya ambil kesimpulan, hampir sebagian besar blogger bertujuan komersil saat memulai blognya. Ya, apa lagi kalau bukan berburu... 

    • Artikel

      Referat Kedokteran: Pemilihan Cairan Pengganti Pada Perdarahan Akut

      Artikel ini merupakan lanjutan dari referat kedokteran yang telah kami publikasikan sebelumnya, yaitu Konsep Dasar Transport Oksigen. Kali ini kita akan membicarakan tentang Pemilihan Cairan Pengganti pada Perdarahan Akut. Pada prinsipnya, pemilihan cairan pengganti... 

      Referat Kedokteran: Konsep Dasar Transport Oksigen

      Referat ini adalah lanjutan dari referat kedokteran sebelumnya: Resusitasi Cairan Pada Perdarahan Akut. Kali ini kita akan membicarakan tentang konsep dasar transport oksigen. Mekanisme transport oksigen terdiri dari tiga tahap : a. Sistem pernapasan yang membawa... 

    • Medical

      Kejadian Osteoporosis Pada Wanita Lanjut Usia (Kasus RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar)

      PROSES menua merupakan suatu proses normal yang ditandai dengan perubahan secara progresif dalam proses biokimia, sehingga terjadi kelainan atau perubahan struktur dan fungsi jaringan, sel dan non sel. (Widjayakusumah, 1992). Berbagai perubahan fisik dan psikososial... 

      IMUNISASI; Pengertian, Jenis dan Ruang Lingkup

      IMUNISASI; Pengertian dan Ruang Lingkup Definisi : Cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu Ag, sehingga bila ia terpapar pada Ag yang serupa, tidak terjadi penyakit. Sistem Imun Spesifik : Hanya dapat menghancurkan benda asing yang... 

    • Referat

      Referat Kedokteran: Pemilihan Cairan Pengganti Pada Perdarahan Akut

      Artikel ini merupakan lanjutan dari referat kedokteran yang telah kami publikasikan sebelumnya, yaitu Konsep Dasar Transport Oksigen. Kali ini kita akan membicarakan tentang Pemilihan Cairan Pengganti pada Perdarahan Akut. Pada prinsipnya, pemilihan cairan pengganti... 

      Referat Kedokteran: Konsep Dasar Transport Oksigen

      Referat ini adalah lanjutan dari referat kedokteran sebelumnya: Resusitasi Cairan Pada Perdarahan Akut. Kali ini kita akan membicarakan tentang konsep dasar transport oksigen. Mekanisme transport oksigen terdiri dari tiga tahap : a. Sistem pernapasan yang membawa... 

    • Breaking News

      Lowongan Kerja Dokter Perusahaan di PT Ajinomoto Indonesia

      Ajinomoto Indonesia berencana merekrut tenaga medis sebagai dokter perusahaan. Detail pekerjaannya adalah sebagai berikut: 1. Melakukan analisa laporan kesehatan karyawan Grup Ajinomoto Indonesia 2. Menyusun rekapitulasi laporan hasil pemeriksaan... 

      Kontroversi Blog Noordin M Top

      Di tengah gencarnya proses pencarian terhadap gembong teroris internasional Noordin M Top, tiba-tiba kita kembali dikagetkan dengan ‘pengakuan resmi’ seseorang yang mengaku sebagai Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia Abu Mu’awwidz Nur Din... 

    Postingan Berdasarkan Kata Kunci

    AntiVirus Anti Virus Articles Trade Artis seksi Artis Seksi 2009 AstaMedia Blogging School AstaMedia Group Bank Mandiri Bisnis Online Blog Blog Advertising blogger Blogger Template blogger widget Blogging Blogsvertise Download Gratis Google Google Adsense Indonesia Internet Internet Marketing Kedokteran Kehamilan Kesehatan Make Money Blogging Opini Kesehatan page rank paid Blogging Paid Review Paypal Pelayanan Kesehatan Pembangunan Kesehatan Refleksi Rumah Sakit Seksi SEO Smorty SMS Sahabat Software Tips Blogging Tips Ngeblog Ulang Tahun widget widget blog