<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Orang Gila dan Kegilaan Kita</title>
	<atom:link href="http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/</link>
	<description>Astaqauliyah.com Offering Blog Advertising Tutorials, Make Money Blogging Tips, Personal Opinion, Medical Information and More</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 00:54:47 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Article Gadget</title>
		<link>http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/comment-page-1/#comment-93</link>
		<dc:creator>Article Gadget</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 21:26:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://astaqauliyah.com/?p=214#comment-93</guid>
		<description>sejujurnya... &quot;pernah jaQ gila kah, bozz?... pernah berani telanjang di depan umum dan merasakanbiasa2 ji..?&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sejujurnya&#8230; &#8220;pernah jaQ gila kah, bozz?&#8230; pernah berani telanjang di depan umum dan merasakanbiasa2 ji..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Article Gadget</title>
		<link>http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/comment-page-1/#comment-6479</link>
		<dc:creator>Article Gadget</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 21:26:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://astaqauliyah.com/?p=214#comment-6479</guid>
		<description>sejujurnya... &quot;pernah jaQ gila kah, bozz?... pernah berani telanjang di depan umum dan merasakanbiasa2 ji..?&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sejujurnya&#8230; &#8220;pernah jaQ gila kah, bozz?&#8230; pernah berani telanjang di depan umum dan merasakanbiasa2 ji..?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/comment-page-1/#comment-91</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Feb 2007 20:06:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://astaqauliyah.com/?p=214#comment-91</guid>
		<description>GILA ;   SEPENTING APAKAH ITU ? &lt;br/&gt;                    (Tanggapan Atas Orang Gila dan Kegilaan Kita, Asta Qauliyah)&lt;br/&gt;                                            &lt;br/&gt;                                              By : A s l a n&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa memang gila, berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban? Mengomentari tulisan saudara Asta Qauliyah; seolah tamasya jauh masuk ke dalam eksistensi manusia kita. Sepanjang hemat penulis, belum pernah ada satu penjelasan utuh nan memuaskan tentang apa dan bagaimana GILA itu, kita secara tradisional mendakwa seseorang sebagai gila bila perilakunya bertolak belakang dengan orang kebanyakan, bicara sendiri, diam atau teriak-teriak tanpa sebab jelas. Pelabelan, apapun itu, mau dibungkus dengan sampul manapun, termasuk bahasa ilmu pengetahuan, sejatinya memeram kontradiksi pada dirinya sendiri, sukar berpisah dari subyektifitas. Nah di sini luka-luka dari labelisasi tadi menganga. Ke-normal-an selalu tertafsirkan sebagai perilaku dan cara pandang rata-rata orang pada umumnya, ada dominasi yang teramat dipaksakan. Sementara secara diam-diam antara kita (yang normal) dengan orang gila bila boleh dicurigai, memiliki persamaan baik secara individual maupun komunal (masyarakat), mulai sejak bangun sampai tidur lagi, kita merindukan dan menikmati betul hal-hal aneh dan bertentangan dengan ideal/ nilai yang dianggap baik, bayangkan saja misalnya hasil teknologi manusia seperti televisi; ternyata benda yang paling tidak konsisten, televisi ialah medium dimana inkonsistensi menjadi Tuhan, “kepribadian” Televisi sungguh terpecah-pecah (Skizofrenik). &lt;br/&gt;Baru saja mengajari orang tentang agama dan moral, sorotan layar TV berpindah cepat pada tayangan yang “menolak habis” seluruh nilai moral dan agama, pelan tapi pasti TV mengajari kita bagaimana membunuh yang cepat, cara memperkosa gadis di bawah umur, cara merampok dan cara membohongi diri kita sendiri. Dan berdasarkan hasil rating, untuk Indonesia, acara gosip menjadi idola; mengupas hal-hal remeh dari artis maupun orang terkenal, mulai dari ukuran sepatu hingga posisi apa yang dipakai oleh artis ini atau itu, kala bergumul dalam selimut dengan pasangannya di ranjang. Voyeurisme (kelainan jiwa yg ditandai dengan rasa nikmat yang muncul ketika mengintip) yang tercipta sungguh berskala massal, melibatkan jutaan pasang mata, merasuk dalam sadar dan sikap kita. Voyeurisme massal (nonton acara gosip TV), sekedar contoh kecil dari contoh-contoh lain yang bertumpuk. Atau kenapa mereka yang dipercaya mengurus kesejahteraan orang banyak justru jadi pencuri, yang aneh bukan itu namun justru pada kebanyakan kita, yang masih saja menjadikan mereka sebagai pemimpin bangsa, malah mengelu-elukan setiap kali kita bersua mereka. &lt;br/&gt;Di ranah pengetahuan, kita mengenal psikologi, namun sayang!, psikologi itu ilmu yang terlalu ragu-ragu, dia tak kunjung komplet hingga kini, tetapi agaknya demikianlah sifat ilmu pengetahuan, setiap kesimpulan niscaya menjelma menjadi Tanya yang baru. &lt;br/&gt;Kembali pada Gila, entah sejak kapan manusia mulai menggunakannya sebagai kosa kata, tak ada data historis pasti. Tetapi memang manusia itu ialah makhluk kerumunan, senantiasa ada upaya, diam-diam atau terang-terangan, meneguhkan sejumlah aturan dan syarat demi keamanan dan kesejahteraan hidup bersama. Sebenarnya kesepakatan masyarakat manusia itu  bisa menjadi sangat  kejam menghukum hal-hal yang “keluar” dari zona kenyamanan kolektif.&lt;br/&gt;Gila ketika diperbincangkan, menumpahkan gelisah dan debat yang tak henti-henti, bukankah hingga kini, tak satupun di antara kita sanggup menerangkan dengan benderang tentang apa dan bagaimana kesadaran itu, proses kerjanya, tenaga pendorongnya, lintasan yang dilalui, mula dan akhirnya, serta masih banyak yang lain. Atau boleh saja kita mencurigai bahwa ternyata mereka yang kita labeli gila, justru secara kualitas telah menyeberangi dimensi kenyataan yang berbeda dengan kita, mungkin saja dia (orang gila) sedang menaiki tangga kesadaran yang lebih tinggi atau boleh saja mereka sesungguhnya adalah orang-orang terpilih, di seleksi ketat oleh alam untuk mengecap ‘sesuatu’ yang tak sembarang orang boleh merasakannya.&lt;br/&gt;Sekedar pembanding, dahulu hampir setiap nabi disebut Gila oleh umatnya. Kemajuan-kemajuan yang kita nikmati sekarang ini, tak bisa dilupakan lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya, betapa tidak, untuk menemukan telepon saja Graham Bell mesti melewati bertumpuk eksperimen aneh, setidaknya menurut zamannya. Soekarno sebelum Indonesia merdeka, telah mengangankan Nusantara yang bersatu, padahal dimana sih nyambungnya, penduduk nusantara di berbagai wilayah berbeda secara kultur, kecenderungan sosial dan fisik antara satu dengan lain atau bagaimana meredam perang suku di hampir setiap wilayah Indonesia, laut yang luas memisah-misahkan pulau apalagi keberadaan Majapahit, Singosari dsb yang dianggap pernah mempersatukan Nusantara; kebenarannya masih dapat digugat, sehingga tak pernah ada pengalaman satu sebagai bangsa, belum lagi sumber daya manusia kurang dan masih banyak lagi alasan yang cukup untuk menyebut Soekarno itu Gila, karena mengangankan hal yang mustahil di zamannya.&lt;br/&gt;Bukan siapa yang gila dan siapa yang tidak gila sebenarnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi bagaimana memberi arti pada hidup ini, hidup yang sederhana berpindah dari detik yang satu ke detik yang lain, tanpa keinginan muluk-muluk, bekerja menghasilkan yang terbaik kapanpun dimanapun. Maksudnya jika memang anda dicurigai sebagai orang normal, bersukurlah, tetapi apakah hidup anda sungguh telah bermanfaat bagi orang lain atau tidak ? &lt;br/&gt;Dan kalaupun anda memenuhi syarat-syarat Gila baik dipaksakan ataupun tidak, maka bersukurlah juga, sebab anda orang-orang pilihan.  ? ? ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>GILA ;   SEPENTING APAKAH ITU ? <br />                    (Tanggapan Atas Orang Gila dan Kegilaan Kita, Asta Qauliyah)</p>
<p>                                              By : A s l a n</p>
<p>Apa memang gila, berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban? Mengomentari tulisan saudara Asta Qauliyah; seolah tamasya jauh masuk ke dalam eksistensi manusia kita. Sepanjang hemat penulis, belum pernah ada satu penjelasan utuh nan memuaskan tentang apa dan bagaimana GILA itu, kita secara tradisional mendakwa seseorang sebagai gila bila perilakunya bertolak belakang dengan orang kebanyakan, bicara sendiri, diam atau teriak-teriak tanpa sebab jelas. Pelabelan, apapun itu, mau dibungkus dengan sampul manapun, termasuk bahasa ilmu pengetahuan, sejatinya memeram kontradiksi pada dirinya sendiri, sukar berpisah dari subyektifitas. Nah di sini luka-luka dari labelisasi tadi menganga. Ke-normal-an selalu tertafsirkan sebagai perilaku dan cara pandang rata-rata orang pada umumnya, ada dominasi yang teramat dipaksakan. Sementara secara diam-diam antara kita (yang normal) dengan orang gila bila boleh dicurigai, memiliki persamaan baik secara individual maupun komunal (masyarakat), mulai sejak bangun sampai tidur lagi, kita merindukan dan menikmati betul hal-hal aneh dan bertentangan dengan ideal/ nilai yang dianggap baik, bayangkan saja misalnya hasil teknologi manusia seperti televisi; ternyata benda yang paling tidak konsisten, televisi ialah medium dimana inkonsistensi menjadi Tuhan, “kepribadian” Televisi sungguh terpecah-pecah (Skizofrenik). <br />Baru saja mengajari orang tentang agama dan moral, sorotan layar TV berpindah cepat pada tayangan yang “menolak habis” seluruh nilai moral dan agama, pelan tapi pasti TV mengajari kita bagaimana membunuh yang cepat, cara memperkosa gadis di bawah umur, cara merampok dan cara membohongi diri kita sendiri. Dan berdasarkan hasil rating, untuk Indonesia, acara gosip menjadi idola; mengupas hal-hal remeh dari artis maupun orang terkenal, mulai dari ukuran sepatu hingga posisi apa yang dipakai oleh artis ini atau itu, kala bergumul dalam selimut dengan pasangannya di ranjang. Voyeurisme (kelainan jiwa yg ditandai dengan rasa nikmat yang muncul ketika mengintip) yang tercipta sungguh berskala massal, melibatkan jutaan pasang mata, merasuk dalam sadar dan sikap kita. Voyeurisme massal (nonton acara gosip TV), sekedar contoh kecil dari contoh-contoh lain yang bertumpuk. Atau kenapa mereka yang dipercaya mengurus kesejahteraan orang banyak justru jadi pencuri, yang aneh bukan itu namun justru pada kebanyakan kita, yang masih saja menjadikan mereka sebagai pemimpin bangsa, malah mengelu-elukan setiap kali kita bersua mereka. <br />Di ranah pengetahuan, kita mengenal psikologi, namun sayang!, psikologi itu ilmu yang terlalu ragu-ragu, dia tak kunjung komplet hingga kini, tetapi agaknya demikianlah sifat ilmu pengetahuan, setiap kesimpulan niscaya menjelma menjadi Tanya yang baru. <br />Kembali pada Gila, entah sejak kapan manusia mulai menggunakannya sebagai kosa kata, tak ada data historis pasti. Tetapi memang manusia itu ialah makhluk kerumunan, senantiasa ada upaya, diam-diam atau terang-terangan, meneguhkan sejumlah aturan dan syarat demi keamanan dan kesejahteraan hidup bersama. Sebenarnya kesepakatan masyarakat manusia itu  bisa menjadi sangat  kejam menghukum hal-hal yang “keluar” dari zona kenyamanan kolektif.<br />Gila ketika diperbincangkan, menumpahkan gelisah dan debat yang tak henti-henti, bukankah hingga kini, tak satupun di antara kita sanggup menerangkan dengan benderang tentang apa dan bagaimana kesadaran itu, proses kerjanya, tenaga pendorongnya, lintasan yang dilalui, mula dan akhirnya, serta masih banyak yang lain. Atau boleh saja kita mencurigai bahwa ternyata mereka yang kita labeli gila, justru secara kualitas telah menyeberangi dimensi kenyataan yang berbeda dengan kita, mungkin saja dia (orang gila) sedang menaiki tangga kesadaran yang lebih tinggi atau boleh saja mereka sesungguhnya adalah orang-orang terpilih, di seleksi ketat oleh alam untuk mengecap ‘sesuatu’ yang tak sembarang orang boleh merasakannya.<br />Sekedar pembanding, dahulu hampir setiap nabi disebut Gila oleh umatnya. Kemajuan-kemajuan yang kita nikmati sekarang ini, tak bisa dilupakan lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya, betapa tidak, untuk menemukan telepon saja Graham Bell mesti melewati bertumpuk eksperimen aneh, setidaknya menurut zamannya. Soekarno sebelum Indonesia merdeka, telah mengangankan Nusantara yang bersatu, padahal dimana sih nyambungnya, penduduk nusantara di berbagai wilayah berbeda secara kultur, kecenderungan sosial dan fisik antara satu dengan lain atau bagaimana meredam perang suku di hampir setiap wilayah Indonesia, laut yang luas memisah-misahkan pulau apalagi keberadaan Majapahit, Singosari dsb yang dianggap pernah mempersatukan Nusantara; kebenarannya masih dapat digugat, sehingga tak pernah ada pengalaman satu sebagai bangsa, belum lagi sumber daya manusia kurang dan masih banyak lagi alasan yang cukup untuk menyebut Soekarno itu Gila, karena mengangankan hal yang mustahil di zamannya.<br />Bukan siapa yang gila dan siapa yang tidak gila sebenarnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi bagaimana memberi arti pada hidup ini, hidup yang sederhana berpindah dari detik yang satu ke detik yang lain, tanpa keinginan muluk-muluk, bekerja menghasilkan yang terbaik kapanpun dimanapun. Maksudnya jika memang anda dicurigai sebagai orang normal, bersukurlah, tetapi apakah hidup anda sungguh telah bermanfaat bagi orang lain atau tidak ? <br />Dan kalaupun anda memenuhi syarat-syarat Gila baik dipaksakan ataupun tidak, maka bersukurlah juga, sebab anda orang-orang pilihan.  ? ? ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://astaqauliyah.com/2007/01/orang-gila-dan-kegilaan-kita/comment-page-1/#comment-6478</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Feb 2007 20:06:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://astaqauliyah.com/?p=214#comment-6478</guid>
		<description>GILA ;   SEPENTING APAKAH ITU ?                     (Tanggapan Atas Orang Gila dan Kegilaan Kita, Asta Qauliyah)                                               By : A s l a nApa memang gila, berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban? Mengomentari tulisan saudara Asta Qauliyah; seolah tamasya jauh masuk ke dalam eksistensi manusia kita. Sepanjang hemat penulis, belum pernah ada satu penjelasan utuh nan memuaskan tentang apa dan bagaimana GILA itu, kita secara tradisional mendakwa seseorang sebagai gila bila perilakunya bertolak belakang dengan orang kebanyakan, bicara sendiri, diam atau teriak-teriak tanpa sebab jelas. Pelabelan, apapun itu, mau dibungkus dengan sampul manapun, termasuk bahasa ilmu pengetahuan, sejatinya memeram kontradiksi pada dirinya sendiri, sukar berpisah dari subyektifitas. Nah di sini luka-luka dari labelisasi tadi menganga. Ke-normal-an selalu tertafsirkan sebagai perilaku dan cara pandang rata-rata orang pada umumnya, ada dominasi yang teramat dipaksakan. Sementara secara diam-diam antara kita (yang normal) dengan orang gila bila boleh dicurigai, memiliki persamaan baik secara individual maupun komunal (masyarakat), mulai sejak bangun sampai tidur lagi, kita merindukan dan menikmati betul hal-hal aneh dan bertentangan dengan ideal/ nilai yang dianggap baik, bayangkan saja misalnya hasil teknologi manusia seperti televisi; ternyata benda yang paling tidak konsisten, televisi ialah medium dimana inkonsistensi menjadi Tuhan, “kepribadian” Televisi sungguh terpecah-pecah (Skizofrenik). Baru saja mengajari orang tentang agama dan moral, sorotan layar TV berpindah cepat pada tayangan yang “menolak habis” seluruh nilai moral dan agama, pelan tapi pasti TV mengajari kita bagaimana membunuh yang cepat, cara memperkosa gadis di bawah umur, cara merampok dan cara membohongi diri kita sendiri. Dan berdasarkan hasil rating, untuk Indonesia, acara gosip menjadi idola; mengupas hal-hal remeh dari artis maupun orang terkenal, mulai dari ukuran sepatu hingga posisi apa yang dipakai oleh artis ini atau itu, kala bergumul dalam selimut dengan pasangannya di ranjang. Voyeurisme (kelainan jiwa yg ditandai dengan rasa nikmat yang muncul ketika mengintip) yang tercipta sungguh berskala massal, melibatkan jutaan pasang mata, merasuk dalam sadar dan sikap kita. Voyeurisme massal (nonton acara gosip TV), sekedar contoh kecil dari contoh-contoh lain yang bertumpuk. Atau kenapa mereka yang dipercaya mengurus kesejahteraan orang banyak justru jadi pencuri, yang aneh bukan itu namun justru pada kebanyakan kita, yang masih saja menjadikan mereka sebagai pemimpin bangsa, malah mengelu-elukan setiap kali kita bersua mereka. Di ranah pengetahuan, kita mengenal psikologi, namun sayang!, psikologi itu ilmu yang terlalu ragu-ragu, dia tak kunjung komplet hingga kini, tetapi agaknya demikianlah sifat ilmu pengetahuan, setiap kesimpulan niscaya menjelma menjadi Tanya yang baru. Kembali pada Gila, entah sejak kapan manusia mulai menggunakannya sebagai kosa kata, tak ada data historis pasti. Tetapi memang manusia itu ialah makhluk kerumunan, senantiasa ada upaya, diam-diam atau terang-terangan, meneguhkan sejumlah aturan dan syarat demi keamanan dan kesejahteraan hidup bersama. Sebenarnya kesepakatan masyarakat manusia itu  bisa menjadi sangat  kejam menghukum hal-hal yang “keluar” dari zona kenyamanan kolektif.Gila ketika diperbincangkan, menumpahkan gelisah dan debat yang tak henti-henti, bukankah hingga kini, tak satupun di antara kita sanggup menerangkan dengan benderang tentang apa dan bagaimana kesadaran itu, proses kerjanya, tenaga pendorongnya, lintasan yang dilalui, mula dan akhirnya, serta masih banyak yang lain. Atau boleh saja kita mencurigai bahwa ternyata mereka yang kita labeli gila, justru secara kualitas telah menyeberangi dimensi kenyataan yang berbeda dengan kita, mungkin saja dia (orang gila) sedang menaiki tangga kesadaran yang lebih tinggi atau boleh saja mereka sesungguhnya adalah orang-orang terpilih, di seleksi ketat oleh alam untuk mengecap ‘sesuatu’ yang tak sembarang orang boleh merasakannya.Sekedar pembanding, dahulu hampir setiap nabi disebut Gila oleh umatnya. Kemajuan-kemajuan yang kita nikmati sekarang ini, tak bisa dilupakan lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya, betapa tidak, untuk menemukan telepon saja Graham Bell mesti melewati bertumpuk eksperimen aneh, setidaknya menurut zamannya. Soekarno sebelum Indonesia merdeka, telah mengangankan Nusantara yang bersatu, padahal dimana sih nyambungnya, penduduk nusantara di berbagai wilayah berbeda secara kultur, kecenderungan sosial dan fisik antara satu dengan lain atau bagaimana meredam perang suku di hampir setiap wilayah Indonesia, laut yang luas memisah-misahkan pulau apalagi keberadaan Majapahit, Singosari dsb yang dianggap pernah mempersatukan Nusantara; kebenarannya masih dapat digugat, sehingga tak pernah ada pengalaman satu sebagai bangsa, belum lagi sumber daya manusia kurang dan masih banyak lagi alasan yang cukup untuk menyebut Soekarno itu Gila, karena mengangankan hal yang mustahil di zamannya.Bukan siapa yang gila dan siapa yang tidak gila sebenarnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi bagaimana memberi arti pada hidup ini, hidup yang sederhana berpindah dari detik yang satu ke detik yang lain, tanpa keinginan muluk-muluk, bekerja menghasilkan yang terbaik kapanpun dimanapun. Maksudnya jika memang anda dicurigai sebagai orang normal, bersukurlah, tetapi apakah hidup anda sungguh telah bermanfaat bagi orang lain atau tidak ? Dan kalaupun anda memenuhi syarat-syarat Gila baik dipaksakan ataupun tidak, maka bersukurlah juga, sebab anda orang-orang pilihan.  ? ? ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>GILA ;   SEPENTING APAKAH ITU ?                     (Tanggapan Atas Orang Gila dan Kegilaan Kita, Asta Qauliyah)                                               By : A s l a nApa memang gila, berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban? Mengomentari tulisan saudara Asta Qauliyah; seolah tamasya jauh masuk ke dalam eksistensi manusia kita. Sepanjang hemat penulis, belum pernah ada satu penjelasan utuh nan memuaskan tentang apa dan bagaimana GILA itu, kita secara tradisional mendakwa seseorang sebagai gila bila perilakunya bertolak belakang dengan orang kebanyakan, bicara sendiri, diam atau teriak-teriak tanpa sebab jelas. Pelabelan, apapun itu, mau dibungkus dengan sampul manapun, termasuk bahasa ilmu pengetahuan, sejatinya memeram kontradiksi pada dirinya sendiri, sukar berpisah dari subyektifitas. Nah di sini luka-luka dari labelisasi tadi menganga. Ke-normal-an selalu tertafsirkan sebagai perilaku dan cara pandang rata-rata orang pada umumnya, ada dominasi yang teramat dipaksakan. Sementara secara diam-diam antara kita (yang normal) dengan orang gila bila boleh dicurigai, memiliki persamaan baik secara individual maupun komunal (masyarakat), mulai sejak bangun sampai tidur lagi, kita merindukan dan menikmati betul hal-hal aneh dan bertentangan dengan ideal/ nilai yang dianggap baik, bayangkan saja misalnya hasil teknologi manusia seperti televisi; ternyata benda yang paling tidak konsisten, televisi ialah medium dimana inkonsistensi menjadi Tuhan, “kepribadian” Televisi sungguh terpecah-pecah (Skizofrenik). Baru saja mengajari orang tentang agama dan moral, sorotan layar TV berpindah cepat pada tayangan yang “menolak habis” seluruh nilai moral dan agama, pelan tapi pasti TV mengajari kita bagaimana membunuh yang cepat, cara memperkosa gadis di bawah umur, cara merampok dan cara membohongi diri kita sendiri. Dan berdasarkan hasil rating, untuk Indonesia, acara gosip menjadi idola; mengupas hal-hal remeh dari artis maupun orang terkenal, mulai dari ukuran sepatu hingga posisi apa yang dipakai oleh artis ini atau itu, kala bergumul dalam selimut dengan pasangannya di ranjang. Voyeurisme (kelainan jiwa yg ditandai dengan rasa nikmat yang muncul ketika mengintip) yang tercipta sungguh berskala massal, melibatkan jutaan pasang mata, merasuk dalam sadar dan sikap kita. Voyeurisme massal (nonton acara gosip TV), sekedar contoh kecil dari contoh-contoh lain yang bertumpuk. Atau kenapa mereka yang dipercaya mengurus kesejahteraan orang banyak justru jadi pencuri, yang aneh bukan itu namun justru pada kebanyakan kita, yang masih saja menjadikan mereka sebagai pemimpin bangsa, malah mengelu-elukan setiap kali kita bersua mereka. Di ranah pengetahuan, kita mengenal psikologi, namun sayang!, psikologi itu ilmu yang terlalu ragu-ragu, dia tak kunjung komplet hingga kini, tetapi agaknya demikianlah sifat ilmu pengetahuan, setiap kesimpulan niscaya menjelma menjadi Tanya yang baru. Kembali pada Gila, entah sejak kapan manusia mulai menggunakannya sebagai kosa kata, tak ada data historis pasti. Tetapi memang manusia itu ialah makhluk kerumunan, senantiasa ada upaya, diam-diam atau terang-terangan, meneguhkan sejumlah aturan dan syarat demi keamanan dan kesejahteraan hidup bersama. Sebenarnya kesepakatan masyarakat manusia itu  bisa menjadi sangat  kejam menghukum hal-hal yang “keluar” dari zona kenyamanan kolektif.Gila ketika diperbincangkan, menumpahkan gelisah dan debat yang tak henti-henti, bukankah hingga kini, tak satupun di antara kita sanggup menerangkan dengan benderang tentang apa dan bagaimana kesadaran itu, proses kerjanya, tenaga pendorongnya, lintasan yang dilalui, mula dan akhirnya, serta masih banyak yang lain. Atau boleh saja kita mencurigai bahwa ternyata mereka yang kita labeli gila, justru secara kualitas telah menyeberangi dimensi kenyataan yang berbeda dengan kita, mungkin saja dia (orang gila) sedang menaiki tangga kesadaran yang lebih tinggi atau boleh saja mereka sesungguhnya adalah orang-orang terpilih, di seleksi ketat oleh alam untuk mengecap ‘sesuatu’ yang tak sembarang orang boleh merasakannya.Sekedar pembanding, dahulu hampir setiap nabi disebut Gila oleh umatnya. Kemajuan-kemajuan yang kita nikmati sekarang ini, tak bisa dilupakan lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya, betapa tidak, untuk menemukan telepon saja Graham Bell mesti melewati bertumpuk eksperimen aneh, setidaknya menurut zamannya. Soekarno sebelum Indonesia merdeka, telah mengangankan Nusantara yang bersatu, padahal dimana sih nyambungnya, penduduk nusantara di berbagai wilayah berbeda secara kultur, kecenderungan sosial dan fisik antara satu dengan lain atau bagaimana meredam perang suku di hampir setiap wilayah Indonesia, laut yang luas memisah-misahkan pulau apalagi keberadaan Majapahit, Singosari dsb yang dianggap pernah mempersatukan Nusantara; kebenarannya masih dapat digugat, sehingga tak pernah ada pengalaman satu sebagai bangsa, belum lagi sumber daya manusia kurang dan masih banyak lagi alasan yang cukup untuk menyebut Soekarno itu Gila, karena mengangankan hal yang mustahil di zamannya.Bukan siapa yang gila dan siapa yang tidak gila sebenarnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi bagaimana memberi arti pada hidup ini, hidup yang sederhana berpindah dari detik yang satu ke detik yang lain, tanpa keinginan muluk-muluk, bekerja menghasilkan yang terbaik kapanpun dimanapun. Maksudnya jika memang anda dicurigai sebagai orang normal, bersukurlah, tetapi apakah hidup anda sungguh telah bermanfaat bagi orang lain atau tidak ? Dan kalaupun anda memenuhi syarat-syarat Gila baik dipaksakan ataupun tidak, maka bersukurlah juga, sebab anda orang-orang pilihan.  ? ? ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

