Orang Gila dan Kegilaan Kita
Posted by | Published on January 31st, 2007KIta pasti sudah pernah melihat atau bertemu langsung dengan orang gila. Tapi, tahukah apa yang menjadi perbedaan antara kita (yang mengaku masih normal) dengan orang gila? Ternyata pada prinsipnya tidak ada. Menurut Freud, diri manusia tersusun atas tiga faktor; Id, Ego dan Superego. Pada keadaan “trans”, manusia yang kita sebut gila, sesungguhnya masih tetap berdiri atas 3 esensi itu, tanpa berkurang. Hanya mungkin, kegilaan mereka pada beberapa kasus justru kemudian menganggap kita yang mengaku normal ini sebagai orang yang gila. Coba bayangkan, kita dicap gila oleh orang-orang yang kita anggap gila? Bukankah itu kegilaan yang justru luar biasa?
Tapi sudahlah, karena ternyata mereka yang gila tak pernah sedikit pun mau meluangkan waktu memikirkan ketepatan penyebutan mereka kepada kita. Bukankah begitu? Pada keadaan yang kita anggap gila itu, jika hendak menilik lebih jauh, ternyata kegilaan mereka jutru menjadi pintu kebebasan yang sangat membahagiakan buat mereka.
Betapa tidak, hari ini, mereka yang kita anggap gila, adalah pribadi-pribadi bebas tak terikat yang mau bikin apa saja tidak akan pernah disalahkan secara normative oleh kita, yang mengaku masih normal. Malah menjadi tragis jika ada orang normal yang kemudian memaki-maki orang gila karena kelakuannya atau karena perbuatannya, karena itu justru akan dianggap lebih gila!
Kemerdekaan absolute orang gila – terlepas dari ketidakbebasan mereka atas realitas ke-Ilahian – pada kenyataannya harus diakui sebagai sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Dalam patofisiologinya (istilah kedokteran untuk menjelaskan proses perjalanan terjadinya penyakit), kegilaan atau sebuah gangguan kesehatan mental sebagian besar diawali oleh adanya stressor psikososial dalam kehidupan. Beban hidup yang tidak disanggupi atau akibat tekanan sosial yang melebihi kapasitas seseorang yang masih normal, seringkali menimbulkan gejala stress dan kecemasan (anxietas) yang luar biasa. Jika memiliki kecerdasan dialektis yang optimal, mungkin beban-beban tersebut masih bias dilalui meski harus tertatih-tatih. Tetapi jika pertahanan mental dan psikologis kita sudah tidak mampu lagi mengelola beban tersebut karena satu dan lain hal, maka pintu “kegilaan” menjadi terbuka lebar menanti kita.
Dengan demikian, menjadi sedikit bisa kita mahfumi jika kegilaan sesungguhnya adalah mekanisme penyesuaian agar manusia dapat menyelesaikan masalah dan beban hidup yang menghimpitnya. Bukankah prinsip umum penyelesaian masalah selain dengan cara menghadapinya, juga bisa dengan jalan lari dari permasalahn tersebut? Dengan demikian, apakah kita setuju jika menyimpulkan bahwa “menjadi gila” dapat dianggap sebagai mekanisme “lari dari permasalahan” yang ada?
Tulisan ini bukan bermaksud membela kegilaan yang seringkali kita jumpai dalam realitas kemasyarakatan kita, melainkan mencoba mengangkat realitas kegilaan sebagai bagian dari dimensi kehidupan yang tidak boleh kita nafikkan atau kita pandang sebelah mata. Mereka, yang kebetulan menajdi gila, sesungguhnya memiliki derajat, harkat dan martabat yang masih tetap sama dengan kita yang mengaku masih normal. Jangan membuat diskriminasi kemanusiaan lagi! Karena toh, kegilaan mereka merupakan jalan terbaik menyelesaikan problem kehidupan mereka yang setidak-tidaknya tidak (akan) banyak mengganggu realitas kenormalan kita.
Atau, jangan-jangan, kita yang masih menganggap diri normal ini, justru benar-benar telah menjadi gila, tanpa kita sadari sedikit pun? Mungkin suatu waktu, kita perlu meluangkan waktu untuk sekadar bertanya kepada mereka yang saat ini kita labeli “orang gila”.
Popularity: unranked [?]























February 4th, 2007 at 8:06 pm
GILA ; SEPENTING APAKAH ITU ?
(Tanggapan Atas Orang Gila dan Kegilaan Kita, Asta Qauliyah)
By : A s l a n
Apa memang gila, berbahaya bagi kemanusiaan dan peradaban? Mengomentari tulisan saudara Asta Qauliyah; seolah tamasya jauh masuk ke dalam eksistensi manusia kita. Sepanjang hemat penulis, belum pernah ada satu penjelasan utuh nan memuaskan tentang apa dan bagaimana GILA itu, kita secara tradisional mendakwa seseorang sebagai gila bila perilakunya bertolak belakang dengan orang kebanyakan, bicara sendiri, diam atau teriak-teriak tanpa sebab jelas. Pelabelan, apapun itu, mau dibungkus dengan sampul manapun, termasuk bahasa ilmu pengetahuan, sejatinya memeram kontradiksi pada dirinya sendiri, sukar berpisah dari subyektifitas. Nah di sini luka-luka dari labelisasi tadi menganga. Ke-normal-an selalu tertafsirkan sebagai perilaku dan cara pandang rata-rata orang pada umumnya, ada dominasi yang teramat dipaksakan. Sementara secara diam-diam antara kita (yang normal) dengan orang gila bila boleh dicurigai, memiliki persamaan baik secara individual maupun komunal (masyarakat), mulai sejak bangun sampai tidur lagi, kita merindukan dan menikmati betul hal-hal aneh dan bertentangan dengan ideal/ nilai yang dianggap baik, bayangkan saja misalnya hasil teknologi manusia seperti televisi; ternyata benda yang paling tidak konsisten, televisi ialah medium dimana inkonsistensi menjadi Tuhan, “kepribadian” Televisi sungguh terpecah-pecah (Skizofrenik).
Baru saja mengajari orang tentang agama dan moral, sorotan layar TV berpindah cepat pada tayangan yang “menolak habis” seluruh nilai moral dan agama, pelan tapi pasti TV mengajari kita bagaimana membunuh yang cepat, cara memperkosa gadis di bawah umur, cara merampok dan cara membohongi diri kita sendiri. Dan berdasarkan hasil rating, untuk Indonesia, acara gosip menjadi idola; mengupas hal-hal remeh dari artis maupun orang terkenal, mulai dari ukuran sepatu hingga posisi apa yang dipakai oleh artis ini atau itu, kala bergumul dalam selimut dengan pasangannya di ranjang. Voyeurisme (kelainan jiwa yg ditandai dengan rasa nikmat yang muncul ketika mengintip) yang tercipta sungguh berskala massal, melibatkan jutaan pasang mata, merasuk dalam sadar dan sikap kita. Voyeurisme massal (nonton acara gosip TV), sekedar contoh kecil dari contoh-contoh lain yang bertumpuk. Atau kenapa mereka yang dipercaya mengurus kesejahteraan orang banyak justru jadi pencuri, yang aneh bukan itu namun justru pada kebanyakan kita, yang masih saja menjadikan mereka sebagai pemimpin bangsa, malah mengelu-elukan setiap kali kita bersua mereka.
Di ranah pengetahuan, kita mengenal psikologi, namun sayang!, psikologi itu ilmu yang terlalu ragu-ragu, dia tak kunjung komplet hingga kini, tetapi agaknya demikianlah sifat ilmu pengetahuan, setiap kesimpulan niscaya menjelma menjadi Tanya yang baru.
Kembali pada Gila, entah sejak kapan manusia mulai menggunakannya sebagai kosa kata, tak ada data historis pasti. Tetapi memang manusia itu ialah makhluk kerumunan, senantiasa ada upaya, diam-diam atau terang-terangan, meneguhkan sejumlah aturan dan syarat demi keamanan dan kesejahteraan hidup bersama. Sebenarnya kesepakatan masyarakat manusia itu bisa menjadi sangat kejam menghukum hal-hal yang “keluar” dari zona kenyamanan kolektif.
Gila ketika diperbincangkan, menumpahkan gelisah dan debat yang tak henti-henti, bukankah hingga kini, tak satupun di antara kita sanggup menerangkan dengan benderang tentang apa dan bagaimana kesadaran itu, proses kerjanya, tenaga pendorongnya, lintasan yang dilalui, mula dan akhirnya, serta masih banyak yang lain. Atau boleh saja kita mencurigai bahwa ternyata mereka yang kita labeli gila, justru secara kualitas telah menyeberangi dimensi kenyataan yang berbeda dengan kita, mungkin saja dia (orang gila) sedang menaiki tangga kesadaran yang lebih tinggi atau boleh saja mereka sesungguhnya adalah orang-orang terpilih, di seleksi ketat oleh alam untuk mengecap ‘sesuatu’ yang tak sembarang orang boleh merasakannya.
Sekedar pembanding, dahulu hampir setiap nabi disebut Gila oleh umatnya. Kemajuan-kemajuan yang kita nikmati sekarang ini, tak bisa dilupakan lahir dari mereka yang dianggap gila oleh zamannya, betapa tidak, untuk menemukan telepon saja Graham Bell mesti melewati bertumpuk eksperimen aneh, setidaknya menurut zamannya. Soekarno sebelum Indonesia merdeka, telah mengangankan Nusantara yang bersatu, padahal dimana sih nyambungnya, penduduk nusantara di berbagai wilayah berbeda secara kultur, kecenderungan sosial dan fisik antara satu dengan lain atau bagaimana meredam perang suku di hampir setiap wilayah Indonesia, laut yang luas memisah-misahkan pulau apalagi keberadaan Majapahit, Singosari dsb yang dianggap pernah mempersatukan Nusantara; kebenarannya masih dapat digugat, sehingga tak pernah ada pengalaman satu sebagai bangsa, belum lagi sumber daya manusia kurang dan masih banyak lagi alasan yang cukup untuk menyebut Soekarno itu Gila, karena mengangankan hal yang mustahil di zamannya.
Bukan siapa yang gila dan siapa yang tidak gila sebenarnya yang perlu menjadi perhatian, tetapi bagaimana memberi arti pada hidup ini, hidup yang sederhana berpindah dari detik yang satu ke detik yang lain, tanpa keinginan muluk-muluk, bekerja menghasilkan yang terbaik kapanpun dimanapun. Maksudnya jika memang anda dicurigai sebagai orang normal, bersukurlah, tetapi apakah hidup anda sungguh telah bermanfaat bagi orang lain atau tidak ?
Dan kalaupun anda memenuhi syarat-syarat Gila baik dipaksakan ataupun tidak, maka bersukurlah juga, sebab anda orang-orang pilihan. ? ? ?
[reply to this comment]
February 6th, 2007 at 9:26 pm
sejujurnya… “pernah jaQ gila kah, bozz?… pernah berani telanjang di depan umum dan merasakanbiasa2 ji..?”
[reply to this comment]