Geriathocracy

Pemberdayaan Kesehatan Lokal
Peradaban senantiasa bergulir, silih berganti. Laksana roda pedati, kadang peradaban mencapai titik kulminasi, lalu perlahan namun pasti, surut kembali. Surutnya sebuah peradaban hingga ke titik nadir, sesungguhnya menjadi momentum evaluatif yang oleh banyak pihak nyaris tidak disadari. Padahal, jika sebuah peradaban dibentuk secara sadar dan direncanakan “baik-baik”, tidak mustahil titik kulminasinya juga akan berlangsung lama, seperti yang diinginkan.

Di sini, perdebatan kita tidak lagi harus berkutat pada apa dan bagaimana mendefenisikan “peradaban”, tetapi dimana dan kapan memulai sebuah “peradaban baru”. Perdebatan kita mestinya sudah beranjak lebih berkualitas, bertarung pada arena bagaimana “menumbuhkan spirit” dan semangat baru untuk “berubah” dan terus menjadi lebih baik. Semangat ini perlu terus-menerus dipompakan pada setiap celah ketika kegelisahan meringsut masuk di relung intelektualitas dan moralitas kita. Yang jelas, kita harus berubah. Karena untuk lebih baik, kita harus berubah. Meskipun, tidak semua perubahan ke arah yang lebih baik.

Bagaimana melecut perubahan? Caranya, “spirit tua” mesti digantikan oleh “spirit yang lebih muda”. Ini realitas zaman. Banyak yang telah pudar, lekang dan lapuk. Metodologi dan konsep perubahan sudah mesti “lebih segar”. Untuk semua tempat, level dan posisi struktural.

Bangsa ini telah lama digerus oleh kekuasaan absolut “orang-orang tua”. Sementara tak bisa dinafikkan, akselerasi zaman telah jauh melampaui “keterampilan hidup” kita. Di belahan bumi yang lain, orang-orang sudah pada sadar, bahwa tidak arif terlalu lama berkutat pada satu model “habituasi” untuk sekadar “mempertahankan hidup”, apalagi untuk “membangun hidup”.

Sementara di sini, kita masih memakai model lama, bahkan dengannya kini kita tengah mengitung hari, menanti kapan saat merasakan hebohnya teori Big Bang; “ledakan akhir peradaban”, kemudian menjadi puing-puing, dan –lebih miris– abu tak bernilai. Jika tidak segera menyadari dan menyusun langkah-langkah antisipasi, kita segera akan binasa.

Ini waktunya orang muda berperan, Bung! Bukan lagi orang tua yang sudah pikun atau sekadar untuk mengisi waktu sisa hidup, menanti “ledakan” dan kehancuran bangsa, komunitas, kampus dan tempat-tempat hidup lainnya. Yang muda mesti melawan keangkuhan mereka yang tua dan tidak tahu diri. Caranya, yang muda mesti lebih cerdas, lebih semangat, lebih kreatif, lebih sadar, dan punya “kelebihan-kelebihan” lain yang tidak dipunyai kaum tua.

Jangan tinggal diam. Kita lawan geriathocracy (baca: penguasaan orang-orang tua dengan model lama klasik atas peradaban) dengan semangat kaum muda. Pembaharuan saat ini perlu segera dilakukan. Bangsa, propinsi, kabupaten, kecamatan, fakultas, universitas, kota, semuanya butuh perubahan. Ingat, zaman terus bergulir. Kaum muda harus juga terus berpikir, beraksi, berkreasi. Meminjam adagium radio EBS Unhas, kaum muda juga mesti “sarat akan obsesi”.

Tapi jangan tersinggung dulu!, wahai orang-orang yang merasa telah tua karena umurnya sudah kepala empat atau lima ke atas. Harap disadari, di sini, seorang dikatakan “tua” bukan karena umurnya, tetapi karena ide-idenya yang tidak kunjung bergerak. Stagnan. Kaum “tua” hanya mampu pro status quo, tidak suka perubahan sana-sini. Tidak mau susah-susah, mikir ini itu. Inginnya aman-aman saja, tanpa gejolak, tanpa aksi demonstrasi.

Ada juga orang yang berusia tua, tetapi masih layak disebut “kaum muda” karena selalu gelisah, ingin berbuat sesuatu agar peradaban semakin baik, setidaknya menjaganya agar tidak lebih hancur. Kita beri penghargaan untuk mereka yang tersisa. Itu baik.

Sekarang, pilih mana: menjadi kaum “tua” atau kaum “muda”? Karena prinsip memilih adalah penerimaan tak bersyarat akan konsekuensi, maka menjadi “tua” atau mengaku “muda” juga demikian. Banyak syarat dan resikonya. Tapi biasanya hanya kaum “muda” saja yang “berani” ambil resiko. Kaum “tua” selalu adem ayem. Nah, yang “gelisah” dengan coretan ini harus hati-hati disebut “pura-pura merasa muda”.[]

Geriathocracy
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

  • Peran Pemerintah dalam Pembangunan Kesehatan
    Sistem kesehatan dapat diidentifikasi dalam berbagai komponen yaitu: pemerintah, masyarakat, pihak ketiga yang menjadi sumber pembiayaan seperti PT Askes Indonesia, JPKM; Penyedia pelayanan, termasuk ...
  • Seri Cerita Rakyat : POKOK KEPINTARAN
    Banyak nama jalan di kota Makassar yang menggunakan nama-nama tokoh yang kental kedaerahannya; terdengar cukup ‘aneh’ dan terbilang sulit diucapkan di lidah para pendatang. Kajaolalido salah satunya. ...
  • NUKLIR DI BIDANG KESEHATAN DAN KEDOKTERAN
    Abad 20 ditandai dengan perkembangan yang menakjubkan di bidang ilmu dan pengetahuan (iptek), termasuk iptek kedokteran dan kesehatan, sehingga memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam diagnosi...
  • Menanti Waktu Menjelang
    Seorang teman pernah berkata begini : “Sadarlah, wahai kawan. Sadarlah bahwa waktu semakin dapat mengejar ruang !”. Sepintas, pernyataan itu tidak menampilkan kesan apa-apa. Tetapi sejurus kemudian, p...
  • Mungkin Kita Juga Harus Serius Untuk bilang : "Saya Serius!"
    Selain seksualitas dan politik, persoalan “ini serius” atau “itu tidak serius” kerap kali menjadi bahan perbincangan terlaris – hampir sama lakunya dengan berdebat soal agama. Berduyun-duyun lidah men...

Tentang Penulis:

- telah menulis 473 artikel di ASTAQAULIYAH.COM

Sejak tahun 2008, Asta Qauliyah aka Asri Tadda bekerja sebagai full-time blogger dan SEO konsultan sekaligus berhenti dari program pendidikan klinik di Fakultas Kedokteran Unhas Makassar yang selama ini digelutinya. Kini, Asta Qauliyah tengah mengembangkan AstaMedia Group, sebuah perusahaan internet marketing dan blog advertising yang berbasis di Makassar dengan sejumlah layanan online dan sayap bisnis di sektor ril. Anda bisa menghubungi Asta Qauliyah melalui jejaring sosial di bawah ini:

Twitter | Facebook | LinkedIn | Google Profile+ | FriendFeed

4 Responses to “Geriathocracy”

  1. Anonymous says:

    Thank you!
    [url=http://qpnyocjx.com/oznx/nvwz.html]My homepage[/url] | [url=http://xvdagqoj.com/gkki/noif.html]Cool site[/url]

    [Reply]

  2. Anonymous says:

    Thank you![url=http://qpnyocjx.com/oznx/nvwz.html]My homepage[/url] | [url=http://xvdagqoj.com/gkki/noif.html]Cool site[/url]

    [Reply]

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Tentang Asta Qauliyah

Asri TaddaAsta Qauliyah aka Asri Tadda adalah seorang blogger lelaki yang aktif berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2007. Ia juga founder AstaMedia Group, perusahaan internet marketing dan blog advertising yang berpusat di Makassar dengan sejumlah layanan global. Profil selengkapnya...

Artikel Terbaru Astaqauliyah.com

Profile Maddi Jane, Penyanyi Cilik Bertalenta ala Justin Bieber

Profile Maddi Jane, Penyanyi Cilik Bertalenta ala Justin Bieber

November 5th, 2011

Siapa yang pernah kenalan dengan Justin Bieber? Saya kira tidak banyak[...]

Referat Kedokteran: Etiologi dan Epidemiologi Frigiditas Pada Wanita

Referat Kedokteran: Etiologi dan Epidemiologi Frigiditas Pada Wanita

October 9th, 2011

Frigiditas adalah salah satu tragedi yang paling besar pada wanita. Fr[...]

Geliat Bangkitnya Bisnis Blog Dalam Negeri

Geliat Bangkitnya Bisnis Blog Dalam Negeri

May 25th, 2011

Sabtu hingga Minggu, 20-21 Mei 2011 lalu diadakan even Roadblog 2011 B[...]

Tiga Puluh Tahun

Tiga Puluh Tahun

April 2nd, 2011

Ya, hari ini saya genap berusia 30 tahun! Sudah tidak (terlalu) muda l[...]

Make Money Blogging dengan PPC AdHitz.com

Make Money Blogging dengan PPC AdHitz.com

March 8th, 2011

Setelah pada postingan sebelumnya saya membahas seputar program blog a[...]

Ini Dia Hosting Murah dan Tangguh!


Baca ulasannya di sini dan dapatkan KUPON 50% DISKON di HawkHost!

PDF Search Engine

Fresh Store Builder - The Most Advanced Amazon Affiliate Software