Mengapa Menangis?

Hampir tak ada bayi yang tidak melepaskan tangis, saat ia “lolos” dari lingkaran liang vagina ibunya saat dilahirkan. Tangisan perdana yang, oleh beberapa kaum horoskopis dipandang sebagai sebuah “salam” dan ucapan “aku datang!” bagi bumi dan segala isinya. Lewat tangisan inilah, untuk pertama kalinya bayi dari seonggok daging hasil pembuahan (fertilisasi) antara sel ovum dan sel sperma di ruang rahim ibunya, menyatakan diri secara “materiil” hadir di dunia. Sebagian besar kita, tak ayal, pernah menjalani kejadian seperti ini saat dilahirkan. Tetapi, tangis itu sesungguhnya untuk apa?

Jika lebih jauh ditilik, terlepas dari perspektif fisiologisnya, sebuah tangisan adalah bahasa tubuh (gesture) yang primitif, untuk mengungkapkan emosi tentang sesuatu yang “sangat tidak disukai”, “sesuatu yang terasa sangat membebani”, atau juga bisa berarti “keharuan”, “ketakutan” atau sebagai ungkapan “penyesalan”. Jika seseorang menangis – dalam konteks andragogis – dapat mengantarkan kita pada pemaknaan bahwa orang tersebut sementara bersedih atau tidak merelakan sesuatu hilang/terlepas darinya.

Secara historis, dalam kehidupan tradisional, ungkapan emosional banyak diperankan oleh lengkingan atau pekikan suara keras, yang dalam tahapan selanjutnya, secara lebih feminis disertai dengan tetasan air mata. Ungkapan emosional yang mendalam, selanjutnya diwakilkan oleh tangisan plus air mata.

Masih berkaitan dengan di atas, pertanyaan selanjutnya adalah untuk apa “kita – termasuk bayi yang diceritakan di atas”, menangis?

Konon, bayi merupakan makhluk yang (hatinya) masih cukup “suci”, dan karenanya ia mampu secara fitrawi untuk melihat dan menyaksikan fenomena-fenomena alamiah maupun metafisik di sekitarnya. Tangisan bayi, secara tidak langsung, sesungguhnya berhubungan dengan fenomena dunia yang disaksikannya sesaat setelah dirinya keluar dari liang vagina ibunya. Kenapa menangis? Mungkin saja fenomena yang disaksikannya sungguh di luar prakiraan, atau sangat menyedihkan/menakutkan baginya. Sehingga tangisnya dapat saja merupakan ungkapan emosi untuk “menolak” hadir di bumi, dan bermaksud “kembali” ke alam rahim seperti sebelumnya.

Perjalanan waktu seiring dengan bertambahnya usia, dari bayi yang masih merah hingga beranjak dewasa, turut berpengaruh pada kedewasaan kita untuk “menangis”, akibat masuknya kita dalam realitas yang sesungguhnya tidak kita ingini. Karena lebih dewasa, model “tangisan” kita mulai berangsur berubah menjadi lebih hemat suara dan sedikit air mata. Barangkali dalam beberapa kesempatan, air mata kita menetes dalam bulir-bulir kecil, atau kita keluarkan pekik suara tertahan karena sedih/marah atau kecewa atas realitas yang ada. Sebenarnya kita tetap saja menangis, sampai kapan pun, karena memang kita tidak “bermakna” jika hanya dilahirkan pada dunia yang “normal-normal saja”.

Memaknai “tangisan”, sejak kecil hingga besar, boleh menghantar kita untuk bisa lebih mengerti bahwa kita, manusia, sesungguhnya tidak pernah bisa serta merta “menerima” kenyataan tanpa protes atau emosi. Justru sebaliknya, apresiasi kita secara fitrawi selalu hadir untuk memaknai kenyataan. Untuk menormalisasikan apresiasi tersebut, maka tuntunan hidup diberikan kepada setiap ummat di bumi agar perjalanan waktu dan tempatnya, bisa berlangsung hingga ajal menjemput. Tuntunan tersebut yang secara leksikal disebut sebagai “kitab suci” sebagai pedoman hidup (hudan-lil-annas) dan pembeda (al-furqaan). Sederhananya, turunnya kitab suci manusia dalam kehidupannya, antara lain merupakan penuntun atau tata cara “menangis” yang baik dan benar.

Karena itu, tangisan menempati proporsi yang tidak kalah pentingnya untuk dihadirkan dalam hidup, tetapi tidak secara berlebihan. Tangisan yang proporsional, sesungguhnya menempatkan jiwa dan hati kita dalam nuansa kedinamisan saat berhadapan dengan realitas yang “paling tidak disukai” sekalipun. Jika masih ada waktu, maka “menangislah” dengan lebih dewasa. Menangis, dapat dianggap “dewasa” jika ia tidak disertai dengan suara isak dan tidak dengan mengucurkan bulir air mata.

Kita akan terus menangis hingga konteks kita tidak lagi melayakkan kita untuk mengeluarkan tangisan, dan itu hanya akan ada jika fase “menangis” saat ini telah kita lewati dengan “lebih dewasa”! []

Mengapa Menangis?
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

  • DUKA JOGJA, DUKA KITA
    Jogja kini dalam tangis dan dukaMenanti uluran tangan kemanusiaanMari menegaskan persaudaraan,Jangan biarkan mereka berputus asaKarena kita masih ada,Bersama mereka...menjadi mereka(www.astaqauliyah.b...
  • Catatan Kesehatan di Akhir Tahun
    Sepanjang tahun 2005 hingga 2006 ini bisa dibilang cukup fenomenal dalam perjalananan pembangunan kesehatan bangsa. Silih berganti permasalahan muncul. Deretan angka yang menunjukkan masih lemahnya in...
  • Nikmatnya Berbagi Hasil Nge-blog
    Akhirnya si empunya Dengar Blogku, koass Eppink tiba dengan selamat di Makassar. Agak lama beliau mengasingkan diri di Semarang, tempat si buah hatinya, Iman, sedang bertumbuh. Memendam kangen pada I...
  • PERANAN ORGANISASI PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI KERJA
    Membahas mengenai masalah ketenagakerjaan, kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan penyediaan tenaga kerja atau sumber daya manusia yang bermutu belumlah maksimal. Hal ini ditegaskan oleh Menter...
  • Berburu Domain PR3-PR4 di Digital Point Forum (DPF)
    Beberapa hari terakhir saya disibukkan dengan usaha baru: berburu domain yang memiliki Page Rank 3-4 di Digital Point Forum (DPF). Rasanya cukup asyik, apalagi kalau menang saat nge-bid melawan puluha...

Tentang Penulis:

- telah menulis 474 artikel di ASTAQAULIYAH.COM

Sejak tahun 2008, Asta Qauliyah aka Asri Tadda bekerja sebagai full-time blogger dan SEO konsultan sekaligus berhenti dari program pendidikan klinik di Fakultas Kedokteran Unhas Makassar yang selama ini digelutinya. Kini, Asta Qauliyah tengah mengembangkan AstaMedia Group, sebuah perusahaan internet marketing dan blog advertising yang berbasis di Makassar dengan sejumlah layanan online dan sayap bisnis di sektor ril. Anda bisa menghubungi Asta Qauliyah melalui jejaring sosial di bawah ini:

Twitter | Facebook | LinkedIn | Google Profile+ | FriendFeed

Leave a Reply

Tentang Asta Qauliyah

Asri TaddaAsta Qauliyah aka Asri Tadda adalah seorang blogger lelaki yang aktif berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2007. Ia juga founder AstaMedia Group, perusahaan internet marketing dan blog advertising yang berpusat di Makassar dengan sejumlah layanan global. Profil selengkapnya...

Artikel Terbaru Astaqauliyah.com

Serenade; Kado Unik Hari Valentine untuk Pasanganmu!

Serenade; Kado Unik Hari Valentine untuk Pasanganmu!

February 9th, 2012

Valentine menjadi momentum yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang, ter[...]

Profile Maddi Jane, Penyanyi Cilik Bertalenta ala Justin Bieber

Profile Maddi Jane, Penyanyi Cilik Bertalenta ala Justin Bieber

November 5th, 2011

Siapa yang pernah kenalan dengan Justin Bieber? Saya kira tidak banyak[...]

Referat Kedokteran: Etiologi dan Epidemiologi Frigiditas Pada Wanita

Referat Kedokteran: Etiologi dan Epidemiologi Frigiditas Pada Wanita

October 9th, 2011

Frigiditas adalah salah satu tragedi yang paling besar pada wanita. Fr[...]

Geliat Bangkitnya Bisnis Blog Dalam Negeri

Geliat Bangkitnya Bisnis Blog Dalam Negeri

May 25th, 2011

Sabtu hingga Minggu, 20-21 Mei 2011 lalu diadakan even Roadblog 2011 B[...]

Tiga Puluh Tahun

Tiga Puluh Tahun

April 2nd, 2011

Ya, hari ini saya genap berusia 30 tahun! Sudah tidak (terlalu) muda l[...]

Ini Dia Hosting Murah dan Tangguh!


Baca ulasannya di sini dan dapatkan KUPON 50% DISKON di HawkHost!

PDF Search Engine

Fresh Store Builder - The Most Advanced Amazon Affiliate Software