Tak dapat dipungkiri, kita hidup untuk melangsungkan peribadatan. Dalam konteks global, ibadah termanifestasikan dalam segala gerak kemanusiaan yang diarahkan untuk mencapai derajat kebahagiaan yang tertinggi. Dalam hal ini, relasi transendential – antara Makhluk dan Khaliknya, tidak harus merupakan bagian paling dominan, tetapi justru saling menyeimbangkan dengan ibadah sosial yang kita lakukan, berupa relasi horizontal yang melibatkan interaksi antar makhluk-Nya. Pun tidak berlebih Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Kepada Miftah dan FBUAku tahu, kawan…Engkau punya banyak cita dan haraptuk merubah hidupAku pun tahu, kawan…Engkau punya sejuta asa dan semangat kelaki-lakiantuk mengawal perubahanPun aku mengerti, kawan..Setiap jejakmu hanyalah untuk kesetiaan pada idealismeMenghitung waktu, menapak harituk mewujud harap nan terpendam; kemerdekaan, kemanusiaanMungkin aku juga tahu, kawan..Disana,Dalam dekapan tirani dan harumnya kembang kuasaBerdiri dengan kokohnya,Kedzaliman !Tak berharap benar, aku Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Dalam sejarah mula peradaban, kehadiran wanita hanya dinisbatkan sebagai “pelengkap” atau “barang komplementer” bagi kehidupan pria. Ini diketahui dalam cerita Nabi Adam a.s. yang karena merasa kesepian dan ketakbermaknaan hidupnya di bumi pengasingan, kemudian meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkannya “teman” hidup.
Sebagai teman hidup (dalam perspektif materialisme kita), wanita kemudian dipersepsikan sebagai “penampakan” atas ukuran-ukuran manusiawi yang kerap dijumpai Baca Selengkapnya!
Kategori: Artikel, Opini
Silih berganti, bangsa kita dilanda duka. Seakan tak hendak berakhir, ratusan ribu nyawa melayang diterjang gelombang tsunami di Aceh dan Sumut (26/12/04), menggenapkan jumlah dari puluhan korban jiwa yang terjadi saat gempa menimpa Alor dan Nabire sebelumnya. Setelah itu, menyusul beberapa daerah di-”sapa” gempa, catatlah Palu (6,2 SR), Nias (8,3 SR), Padang (6,4SR), dan beberapa daerah lain. Ini belum merambah pada identifikasi kerugian akibat bencana-bencana lainnya. Bangsa ini tengah Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Entah dari mana mula kata “surga” dan “neraka”. Tak dapat pula dijejaki mengapa “surga” mesti berantonimkan “neraka”. Kitab-kitab suci, dengan bahasa asli, tak satupun yang menyebutkan nama “surga” atau “neraka” di dalamnya. Yang ada cuma “jannah” dan “an-nar” (dalam AlQuran), Taman Eden (dalam Injil), dan sejumlah nama asing lainnya. Namun, dari semua itu, satu yang paling jelas bisa dipahami adalah : salah satu dari kedua nama tersebut (surga dan neraka), Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Selain seksualitas dan politik, persoalan “ini serius” atau “itu tidak serius” kerap kali menjadi bahan perbincangan terlaris – hampir sama lakunya dengan berdebat soal agama. Berduyun-duyun lidah mengucap kata “serius”, hanya untuk memastikan bahwa kita “jujur”, “tidak berbohong”, atau “munafik” di hadapan mulut manusia lain. Di lain kesempatan, kata “serius” juga sering dimaksudkan (mungkin) untuk menafikkan sifat “ketidakseriusan” yang sebelumnya mengecat Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Seorang teman pernah berkata begini : “Sadarlah, wahai kawan. Sadarlah bahwa waktu semakin dapat mengejar ruang !”. Sepintas, pernyataan itu tidak menampilkan kesan apa-apa. Tetapi sejurus kemudian, persis setelah mencoba menerawang asa, aku tersadar. Memang benar, waktu tidak selalu bersahabat dengan ruang. Ada saat dimana kita harus berdamai dengan mereka, meluruhkan keangkuhan organic dan membungkam kesombongan material kita. Saat waktu berbicara, atau kala ruang mendesak, kita Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Susah benar menjadi manusia. Kadang harapan kita terlalu besar, tetapi yang dapat dicapai hanya seujung kuku darinya. Acap kali niatan kita segunung, tetapi yang kita berhasil realisasikan tak lebih dari secuil. Saat harapan terbenturkan oleh rintangan, kemanakah harusnya kita memandang ? Saat pahitnya kenyataan berhasil menendang kemerdekaan imajinasi kita yang lahir sebelumnya, ketika semua pupus demi sebuah pengabdian atas realitas, maka kepada siapa lagikah kita – manusia, menenteng Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Interaksi sosial yang kita jalani, tak ayal menjebak kita untuk menerima konsekuensi sosial. Konsekuensi itu dapat berupa penerimaan atau penolakan atas realitas yang terjadi. Manusia adalah makhluk swadiri yang eksistensinya memutlakkan kehadiran sesamanya. Tanpa sesama, interaksi akan hampa dan konsekuensi atas interaksi itu tidak jua akan muncul.
Dalam keterbatasannya, manusia diberikan kemerdekaan fitrawi, untuk melakukan tindakan dan perbuatan sosial. Fitrawinya potensi kemanusiaan, Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Hampir tak ada bayi yang tidak melepaskan tangis, saat ia “lolos” dari lingkaran liang vagina ibunya saat dilahirkan. Tangisan perdana yang, oleh beberapa kaum horoskopis dipandang sebagai sebuah “salam” dan ucapan “aku datang!” bagi bumi dan segala isinya. Lewat tangisan inilah, untuk pertama kalinya bayi dari seonggok daging hasil pembuahan (fertilisasi) antara sel ovum dan sel sperma di ruang rahim ibunya, menyatakan diri secara “materiil” hadir di dunia. Sebagian besar Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
Kyai kondang Indonesia pra Abdullah Gymnastiar, Zainuddin MZ, dalam banyak ceramahnya sering merepetisi statemen bahwa dalam hidupnya, manusia sesungguhnya hanya berkutat pada lingkaran “harta-tahta-wanita” saja. Trilogi materiil tersebut sangat akrab kita jumpai sejak sejarah awal manusia hadir ke bumi, hingga di zaman modern saat ini. Manusia hadir – diserahi tugas sebagai khalifah di muka bumi (khalifatul fil ‘ardi) yang secara metodis dituntun oleh pedoman suci “kitabullah”, Baca Selengkapnya!
Kategori: Artikel
“True love cannot be found where it does not exist nor can it be hidden where it truly does.” “This is true love. Do you think this happens everyday?”
Westly “Princess Bride”
“A memory of true love is like a favorite song; no matter how many times it plays again, you never get tired of it.” “True love is knowing a person’s faults, and loving them even more for them.” “True love is when you’re still dancing, long Baca Selengkapnya!
Kategori: Artikel
Ehhh… hari2 terakhir ini memang sungguh melelahkan. Sampai2 aku pikir bahwa semua wanita sama saja…lemah, mau diperhatikan dan egois dalam ketakberdayaannya itu. Tapi, keseluruhannya, tak tahulah. Aku mungkin cuma bisa cuap-cuap di sini tanpa bisa berkata tegar jika ada dalam kenyataan… Adakah kita dan semua yang ada di maya pada ini bisa memaknai dan memaklumi daku?
Salam hangat sekaligus dendam kesumatku buat yang mengaku perempuan… Bilakah ini berakhir?
Asta Baca Selengkapnya!
Kategori: Artikel
Lihat!Masih juga kita terseret liuk angin kapitalHingga hampir tak bersisa lagi ruang di hatidan nyaris pupus harapan pelupuk mengeja huruf-hufuf kemanusiaan
Dengar!Rintih pedih bergeliat dari setiap sudut koridor hidupSetiap saat terdengar, kita bahkan menjadi terbiasa;barangkali kini hampir tak terdengar karena telinga-telinga ini sudah bebal,atau kita yang berani sengaja tidak mendengarnya?
Rasakan!Tidakkah air mata dan sumpeknya wangi jiwa bisa ingatkan kita?Atau bulir peluh yang Baca Selengkapnya!
Kategori: Refleksi
6 Komentar Terakhir